Waspadai Kemarau Ekstrem, 28 KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning Bergerak Antisipasi Karhutla di Ciremai

Penyerahan alat pemadam jetshooter
Sejumlah KTH di Majalengka, menggelar sosialisasi pencegahan sejak awal kebakaran, serta memberikan bantuan peralatan pemadam api Jet Shooter.
0 Komentar

KUNINGAN – Potensi musim kemarau ekstrem yang diprediksi BMKG menjadi perhatian serius kelompok masyarakat di desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Paguyuban Silihwangi Majakuning.

Warga yang tergabung dalam paguyuban ini bergerak lebih dini memperkuat sistem mitigasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Seperti yang dilakukan pekan ini, pengurus paguyuban aktif mendatangi sejumlah KTH di Majalengka, menggelar sosialisasi pencegahan sejak awal kebakaran, serta memberikan bantuan peralatan pemadam api Jet Shooter. Kegiatan serupa akan dilanjutkan kepada KTH di Kabupaten Kuningan hingga akhir April 2026.

“Ada sekitar 28 KTH di Majalengka dan Kuningan yang akan mengikuti kegiatan pencegahan karhutla ini. Meliputi sosialisasi kesiapan, turut serta patroli rutin bersama BTNGC dan meningkatkan koordinasi, hingga pemeliharaan sekat bakar,” jelas Nandar, di sela kunjungan ke salah satu KTH di Kuningan, Kamis (24/04).

Baca Juga:SDN Kebon Baru 4 Cirebon Tembus Top 10 SD Terbaik NasionalJelang Persib vs Arema, Marc Klok: Main di Kandang Wajib Menang

Pekan ini, jajaran pengurus telah menggelar kegiatan di kawasan Buper Panten, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Kegiatan difokuskan pada penguatan kesiapsiagaan di lapangan, peningkatan kapasitas personel KTH, hingga penyerahan bantuan Jet Shooter atau pompa punggung untuk mempercepat penanganan awal saat muncul titik api di kawasan hutan.

Prakiraan BMKG terkait potensi kemarau ekstrem 2026 akibat fenomena “Godzilla El Nino” memunculkan kekhawatiran serius terhadap ancaman kekeringan panjang dan meningkatnya risiko kebakaran di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Ciremai. Situasi ini dinilai berpotensi mengancam fungsi ekologis TNGC sebagai daerah tangkapan air sekaligus penyangga kehidupan masyarakat lintas wilayah di Kuningan dan Majalengka.

Nandar menilai mitigasi tidak bisa dilakukan secara reaktif saat api mulai membesar. Persiapan harus dibangun sejak awal melalui penguatan koordinasi antar-KTH, kesiapan sarana pemadaman dini, hingga patroli rutin di titik rawan kebakaran.

“Mitigasi harus dimulai dari sekarang. Jangan menunggu api membesar baru bergerak. Kesiapan personel, alat, dan koordinasi menjadi kunci agar penyebaran api bisa ditekan sejak awal,” tegas H. Nandar.

0 Komentar