RADARCIREBON.ID -Permasalahan rumah tidak layak huni (rutilahu) di Kabupaten Cirebon masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Hingga kini, jumlah rutilahu tercatat masih sekitar 12 ribu unit yang tersebar di berbagai desa.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Cirebon, Hilman Firmansyah ST mengatakan, data tersebut merupakan hasil laporan bertahap dari pemerintah desa.
“Berdasarkan laporan desa, saat ini masih ada sekitar 12 ribu rutilahu di Kabupaten Cirebon,” ujar Hilman Firmansyah.
Baca Juga:Jalan Sehat HUT Ke-544 Cirebon, Jigus Sebut Olahraga Jalan Kaki Sudah CukupIPB Cirebon Bekali Mahasiswa Tembus ke Jepang lewat Get Ready for Japan 2026
Dijelaskannya, masih tingginya angka rutilahu dipengaruhi kondisi ekonomi masyarakat. Banyak warga belum memiliki kemampuan finansial untuk memperbaiki rumah secara mandiri.
“Mayoritas disebabkan faktor ekonomi. Masyarakat belum mampu melakukan perbaikan rumah sendiri,” jelasnya.
Meski jumlahnya masih besar, Pemkab Cirebon terus melakukan penanganan secara bertahap melalui berbagai program setiap tahun. Salah satunya melalui alokasi anggaran dari APBD.
Pada tahun 2026, pemerintah daerah menganggarkan bantuan perbaikan untuk 420 unit rutilahu. Program tersebut diharapkan mampu menekan jumlah rutilahu secara bertahap.
“Setiap tahun program pengentasan rutilahu tetap berjalan. Tahun ini, dari APBD dialokasikan untuk 420 unit,” kata Hilman.
Ia menambahkan, penanganan rutilahu tidak hanya mengandalkan APBD. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, seperti Baznas dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Penanganannya dilakukan secara kolaboratif, tidak hanya dari APBD, tetapi juga dari Baznas dan bantuan provinsi,” tambahnya.
Baca Juga:Pengajuan Sengketa Informasi MeningkatKrisis Air Baku, PDAM Tirta Jati Cirebon Jajaki Kerja Sama Penyulingan Air Laut
Hilman menegaskan, pengentasan rutilahu membutuhkan waktu dan konsistensi, mengingat jumlahnya masih ribuan serta keterbatasan anggaran yang ada.
“Tidak bisa diselesaikan dalam satu atau dua tahun. Namun, kami optimistis jumlahnya akan terus berkurang setiap tahun,” pungkasnya. (den)
