Iin mengungkapkan keprihatinannya terhadap kasus kekerasan atau perlakuan tidak manusiawi yang menimpa anak-anak, khususnya balita. Menurutnya, tindakan tersebut sangat tidak bisa ditoleransi dan melanggar hak-hak dasar anak. “Jika kita lihat dari hak-hak anak, apalagi yang masih di bawah lima tahun, perlakuan (kasar) itu memang tidak manusiawi dan berlebihan,” tegas Iin.
Ia menjelaskan bahwa sebuah daycare tidak cukup hanya dikelola secara organisasi, tetapi juga harus memenuhi syarat psikologis. Kehadiran tenaga psikolog dinilai krusial untuk memastikan anak merasa nyaman dan mendapatkan pengasuhan yang sesuai dengan tahap perkembangannya. “Syarat ramah anak itu, selain ada pengurus secara organisasi, juga harus ada psikolog. Kami merasa perlu untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan tersebut ke arah sana,” terangnya kepada Radar Cirebon.
Disinggung mengenai minat masyarakat Kota Cirebon terhadap daycare terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah ibu yang bekerja, Iin menjelaskan, tempat penitipan anak seringkali dianggap sebagai solusi yang lebih aman dibandingkan meninggalkan anak di rumah tanpa pengawasan profesional.
Baca Juga:Indonesia Jadi Tuan Rumah IGIC 2026, Acara Digelar Agustus MendatangNiat Tangkap Ikan, Tangan Bocah Malah Terjebak Besi Cor Pondasi, Damkar Lakukan Evakuasi
Meski demikian, Iin mengingatkan para orang tua agar tidak begitu saja menyerahkan kepercayaan penuh tanpa melakukan pengecekan terhadap fasilitas dan standar pelayanan yang ditawarkan oleh pihak pengelola.
Untuk itu DP3APPKB berkomitmen untuk terus memantau dan memberikan edukasi agar seluruh fasilitas penitipan anak di Kota Cirebon benar-benar menjadi lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara sehat dan aman.
Ia juga menyoroti perlunya perhatian serius dari pemerintah maupun orang tua dalam memantau kondisi anak-anak mereka. Menurut Iin, pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab instansi pemerintah yang membawahi sektor tersebut, tetapi juga menuntut keaktifan orang tua dalam melakukan observasi harian.
Iin menjelaskan bahwa selain aspek keamanan, risiko kesehatan menjadi tantangan nyata di lingkungan daycare. Salah satu contoh yang paling sering terjadi adalah penularan penyakit ringan seperti flu atau influenza yang bisa berdampak signifikan bagi bayi dan balita.
“Ketika ada satu anak yang terkena flu dan mereka berada dalam satu ruangan yang sama, penularan akan terjadi sangat cepat. Seringkali terjadi siklus di mana anak yang baru sembuh kembali tertular dari teman lainnya yang masih sakit. Akibatnya, penyakit tersebut seolah tidak kunjung usai,” ujar Iin.
