RADARCIREBON.ID – Petani di Desa Kedongdong, Kecamatan Susukan harus menelan pil pahit. Pasalnya, mengalami gagal panen hingga tiga kali berturut-turut.
Kondisi tersebut memicu keluhan warga yang menilai penanganan dari Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon belum maksimal.
Tokoh masyarakat Desa Kedongdong, Usman Efendi mengatakan, sebagian besar lahan pertanian di wilayahnya terdampak gagal panen.
Baca Juga:Mahasiswa S2 Kesmas UBHI Gelar Pengabdian Masyarakat Ketika FK UGJ Menjadi Rujukan Belajar bagi Mahasiswa Belanda, Praktik Lapangan hingga Mempelajari Kasus Penya
Bahkan, sekitar 70 persen area persawahan disebut mengalami penurunan hasil produksi secara signifikan.
Menurutnya, para petani sebelumnya telah mengikuti berbagai arahan dan program demplot yang diberikan dinas pertanian.
Namun, saat serangan hama menyebabkan panen berulang kali gagal, petani merasa tidak mendapatkan solusi maupun pendampingan yang memadai.
“Petani sudah mengikuti arahan dan program dari dinas. Tapi ketika gagal panen terjadi, kami merasa seperti dibiarkan tanpa solusi,” ujar Usman yang juga berprofesi sebagai petani.
Pria yang akrab disapa Abah Usman itu menjelaskan, kegagalan panen pertama dan kedua dipicu serangan hama tikus yang merusak tanaman padi di sejumlah blok persawahan.
Meski serangan hama terus berulang, para petani mengaku belum melihat adanya langkah penanganan yang efektif.
“Sebagian wilayah mengalami kerusakan tanaman hingga lebih dari 50 persen. Akibatnya petani kembali gagal panen,” katanya.
Baca Juga:BI Jawa Barat Gelar Pelatihan dan Uji Kompetensi BNSP Juleha Siswi SD Sains Islam Al Farabi Sumber Raih Gelar Winner Miss Hijab Cilik Jabar 2026
Belum pulih dari serangan hama tikus, petani kembali menghadapi persoalan baru pada musim tanam berikutnya.
Kali ini, tanaman padi diserang hama sundep dan ulat yang menyebabkan bulir padi tidak berkembang dengan baik.
“Gagal panen pertama akibat hama tikus, begitu juga gagal panen kedua. Anehnya dinas pertanian tidak memberikan solusi apa-apa,” ungkapnya.
“Harusnya dinas pertanian dari kegagalan pertama memberikan solusi terbaik, bukan diam saja hingga membiarkan kami petani gagal panen sampai tiga kali,” jelasnya.
Akibat tiga kali gagal panen tersebut, kerugian yang dialami petani diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Para petani berharap, pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk membantu pemulihan pertanian di wilayah tersebut.
“Warga berharap pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian segera turun tangan memberikan pendampingan, bantuan penanganan hama, serta langkah konkret agar kerugian petani tidak terus berulang,” pungkasnya. (sam)
