Gus Yahya: KH Adib Rofiuddin Izza Mewakafkan Diri untuk Jam'iyyah dan Jamaah

Gus Yahya: KH Adib Rofiuddin Izza Mewakafkan Diri untuk Jam\'iyyah
Sesepuh Pondok Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengatakan sesepuh Pondok Buntet Pesantren KH Adib Rofiuddin Izza seorang ulama yang mewakafkan diri untuk kemaslahatan jam’iyah dan jamaah.

“Beliau figur kiai yang sudah mewakafkan diri untuk jam’iyah dan jamaah meski dalam kondisi tubuh yang bahkan masih melawan sakit,” tulis Gus Yahya melalui media sosialnya sebagai keterangan foto saat bertakziyah di Rumah Sakit Harapan Kita pada Senin (1/6/2026).

Gus Yahya mengaku sudah mengenal almarhum sejak lama. Sebab, keluarga Pondok Buntet Pesantren sejak KH Abbas Abdul Jamil sudah berkarib dengan kakeknya, KH Bisri Mustofa. Saat menuju medan pertempuran Perang Surabaya pada 10 November 1945, Kiai Abbas sempat singgah di kediaman kakeknya di Rembang, Jawa Tengah.

Baca Juga:Memotret Salat Id dan Penyembelihan Hewan Kurban di Masjid At Taqwa Cirebon, Pembagian Tak Lagi Pakai KuponNilai TKA Telat Turun, Pendaftar Sekolah Maung Panik, Ortu Siswa: Ini Menghambat Banget

“Hal ini sudah terwarisi sejak lama, sejak era eyang kami, Simbah KH Bisri Mustofa dan Simbah Kiai Abbas Buntet, ditandai dengan pertempuran 10 November di Surabaya, di mana Kiai Abbas sempat singgah sejenak di Leteh. Rabithah ini terus bersambung erat hattal ‘ān (sampai sekarang),” lanjutnya.

Oleh karena itu, Gus Yahya beberapa kali menyempatkan diri sowan Kiai Adib di kediamannya di Buntet Pesantren. Bahkan pertemuan terakhirnya terjadi pada pertengahan Mei 2026 lalu saat ia berkunjung usai mengisi PMKNU di Cirebon. “Maka ketika terakhir kali sowan Kiai Adib di Buntet awal (pertengahan) Mei yang lalu, saya seperti pulang ke rumah,” katanya, dilansir daru NU Online.

Gus Yahya berharap segala khidmah Kiai Adib dapat Allah SWT terima. “Semoga khidmah dan perjuangan KH Adib Rafiuddin Izza diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’alla. Amīn yā rabbal’ālamīn. Sugeng tindak kiai. Swargi langgeng kiai,” pungkasnya. (rc)

0 Komentar