RADARCIREBON.ID – Pelaksanaan hari ketiga Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur Sekolah Maung (Manusia Unggul) di Kota Cirebon diwarnai keluhan masal dari para orang tua murid. Lambatnya proses sinkronisasi pangkalan data Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat mengakibatkan mayoritas calon peserta didik belum mendapatkan nilai Tes Kompetensi Akademik (TKA).
Kondisi itu otomatis mengunci hak akses siswa untuk melakukan penguncian berkas (submit) pada portal pendaftaran daring (dalam jaringan). Keterbatasan literasi digital berpadu dengan karut-marut distribusi data dari tingkat provinsi memperparah hambatan di lapangan.
Hingga Rabu kemarin (27/5/2026), sejumlah sekolah asal tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Cirebon dilaporkan belum bisa mengunduh hasil pengujian akademik tersebut. Akibatnya, para orang tua dan siswa terjebak dalam situasi gelagapan digital karena skema pendaftaran mandiri sangat bergantung pada transparansi pergerakan data dari peladen (server) pusat.
Baca Juga:STID dan Wajah Baru Pelabuhan Cirebon; Makin Tertib dan Modern, Menjaga Arus Ekonomi Tetap HidupRibuan Bobotoh Rayakan Persib Juara
Rintangan pendaftaran juga ditambah oleh kebijakan pembatasan jam operasional peladen lokal pada pertengahan pekan ini. Akses pendaftaran elektronik untuk hari Rabu, 27 Mei 2026 dibatasi hanya mulai pukul 12.00 hingga 21.00 WIB. Pemotongan durasi akses peladen daring ini diterapkan secara mendadak dengan alasan penghormatan perayaan hari raya Iduladha 1447 H, sehingga mempersempit waktu operasional bagi masyarakat yang sedang memburu kepastian verifikasi akun.
Otoritas panitia di tingkat satuan pendidikan menengah atas membenarkan adanya pola pengiriman data yang ak serentak dari pusat kendali TIK provinsi. Proses pemutakhiran data dikirimkan secara parsial langsung ke sistem aplikasi internal masing-masing pendaftar yang sudah terverifikasi.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 2 Cirebon Deddy Setiawan SPd menjelaskan bahwa distribusi nilai berjalan tanpa kepastian waktu yang seragam. Panitia lokal di tingkat sekolah bahkan tidak sempat melakukan rekapitulasi jumlah berkas masuk akibat dinamisnya pergerakan data komputer dari Bandung.
“Sudah secara bertahap tapi diinput langsung dari provinsinya. Ada yang sudah dibagikan ke siswanya juga,” kata Deddy soal nilai TKA yang tak seragam diperoleh siswa, Rabu (27/5/2026).
Kondisi ketidakpastian sistem rekam data ini memicu kepanikan di kalangan wali murid yang menargetkan kursi jalur prestasi murni. Sejumlah sekolah asal tingkat SMP bahkan mengeluarkan estimasi waktu rilis berkas yang dinilai tidak masuk akal dan melewati batas tenggat pendaftaran resmi.
