Aktivitas Masjid Miftahul Jannah Pelopori Kurban Digital, Siap Wakafkan Sistem ke Seluruh Indonesia

Aktivitas Masjid Miftahul Jannah Pelopori Kurban Digital
SERBA DIGITAL: Masjid Miftahul Jannah Cirebon mempelopori manajemen kurban berbasis SMQ dan QR Code sekaligus siap mewakafkan sistem ke seluruh Indonesia. Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Pelaksanaan ibadah kurban di Masjid Miftahul Jannah, Perumahan Karisma Residence, Kabupaten Cirebon, tahun 2026 ini benar-benar mendobrak tradisi.

Tak ada lagi pemandangan antrean panjang yang berdesakan, tidak ada lagi kasak-kusuk transparansi keuangan, dan tidak ada lagi laporan pertanggungjawaban yang molor berminggu-minggu.

​Semua itu runtuh oleh sebuah sistem baru bernama Sistem Manajemen Qurban (SMQ). Sebuah platform digital yang dirancang mandiri oleh tim internal masjid. Melalui SMQ, seluruh proses kurban—mulai dari penyembelihan hingga distribusi—bisa dipantau secara live melalui smartphone.

Baca Juga:Memotret Salat Id dan Penyembelihan Hewan Kurban di Masjid At Taqwa Cirebon, Pembagian Tak Lagi Pakai KuponNilai TKA Telat Turun, Pendaftar Sekolah Maung Panik, Ortu Siswa: Ini Menghambat Banget

​Lompatan teknologi ini menjadi oase di tengah potret klasik pengelolaan kurban di Indonesia yang sering kali masih konvensional dan rentan inefisiensi. Masjid Miftahul Jannah berhasil membuktikan bahwa digitalisasi bukan monopoli korporasi, melainkan bisa diadopsi secara sempurna oleh institusi rumah ibadah.

Untuk menjamin kualitas daging, Dewan Eksekutif Masjid (DEM) Miftahul Jannah juga menggandeng tim jagal profesional. Hasilnya, proses eksekusi berjalan cepat, higienis, dan sepenuhnya memenuhi standar animal welfare (kesejahteraan hewan) sesuai syariat Islam.

Ketua Panitia Kurban 2026 Masjid Miftahul Jannah, Rifki F Ghazali, menegaskan bahwa inovasi ini lahir untuk mengubah wajah pelaksanaan kurban secara total melalui transparansi tanpa batas, di mana laporan pertanggungjawaban (LPJ) keuangan bisa selesai tepat pada hari pelaksanaan. “Amanah umat harus bisa dipertanggungjawabkan detiknya itu juga,” jelas Rifki kepada Radar Cirebon.

​Inovasi radikal tidak berhenti pada sistem komputerisasi. Manajemen logistik pasca-penyembelihan juga dirombak total. Panitia mulai memangkas penggunaan kantong kresek sekali pakai demi mendukung gerakan ramah lingkungan (green qurban).

Sebagai gantinya, hak daging untuk pekurban (shohibul qurban) dikemas eksklusif menggunakan kotak kontainer. Sementara untuk penerima manfaat di internal perumahan, daging didistribusikan menggunakan wadah thinwall yang ditempeli label QR Code.

​Hebatnya, label QR Code ini juga dipasang pada kantong kemasan konvensional untuk penerima manfaat di luar perumahan. Teknologi ini bukan pajangan, melainkan sistem pelacakan logistik yang presisi sekaligus wadah bagi penerima untuk memberikan ulasan langsung terkait kualitas pelayanan panitia. “Teknologi QR Code ini bukan sekadar hiasan,” imbuh Rifki.

0 Komentar