Harga Bata Merah Naik, Kewalahan Penuhi Permintaan

Bata Merah Majalengka
Berkurangnya jumlah tenaga kerja membuat kapasitas produksi menurun, sehingga harga bata merah ikut mengalami kenaikan.
0 Komentar

MAJALENGKA – Industri bata merah tradisional di Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka, menghadapi tantangan di tengah tingginya permintaan pasar. Berkurangnya jumlah tenaga kerja membuat kapasitas produksi menurun, sehingga harga bata merah ikut mengalami kenaikan.

Salah seorang pengusaha bata merah di Kecamatan Ligung, Abdullah, mengatakan harga bata merah saat ini berkisar Rp1.200 hingga Rp1.400 per buah, naik dari sekitar Rp1.000 per buah pada tahun lalu.

“Permintaan sebenarnya cukup tinggi, tetapi kami kesulitan memenuhi karena pekerja semakin sedikit,” ujarnya.

Baca Juga:Jaga Status Lumbung Pangan Nasional, Bupati Lucky Hakim Dorong Modernisasi Pertanian di IndramayuBudayawan Indramayu Tolak Keras Ganti Nama Provinsi Jawa Barat jadi Tatar Sunda

Menurut Abdullah, usaha bata merah masih mengandalkan tenaga manusia pada hampir seluruh proses produksi, mulai dari pengolahan tanah liat, pencetakan, penjemuran, pembakaran hingga distribusi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir banyak pekerja beralih ke sektor industri dan jasa yang dinilai menawarkan pendapatan lebih stabil.

Akibatnya, kapasitas produksi menurun dan waktu tunggu pemesanan menjadi lebih lama. Saat ini, konsumen harus menunggu sekitar 10 hingga 20 hari hingga pesanan siap dikirim.

“Proses pembuatan bata merah tidak bisa dipercepat. Setelah dicetak harus dijemur hingga kering, kemudian dibakar sebelum siap dipasarkan,” katanya.

Selain keterbatasan tenaga kerja, cuaca juga memengaruhi proses produksi. Pada musim hujan, penjemuran menjadi lebih lama sehingga waktu produksi ikut bertambah.

Meski demikian, permintaan bata merah tetap tinggi karena masih menjadi material utama untuk pembangunan rumah, ruko, gudang, hingga proyek konstruksi skala kecil dan menengah.

Abdullah berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap keberlangsungan industri bata merah melalui pelatihan tenaga kerja, dukungan permodalan, serta pembinaan bagi pelaku usaha. Ia juga berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menjadi pengrajin agar keberlangsungan industri bata merah tetap terjaga.

“Kalau tenaga kerja kembali tersedia, kami optimistis produksi bisa meningkat dan kebutuhan pasar dapat terpenuhi,” pungkasnya. (bae)

0 Komentar