Suasana berbeda terlihat di SD Peradaban Global Quran. Sejak pukul 06.45 WIB, siswa mulai berdatangan untuk mengikuti upacara bendera sekaligus pembukaan MPLS. Di tengah wajah-wajah ceria, beberapa siswa baru tampak masih menangis karena belum terbiasa berpisah dengan orang tua.
Kepala SD Peradaban Global Quran, Abu Hidayat SPdI, mengatakan seluruh siswa mengikuti MPLS, namun kegiatan difokuskan untuk membantu peserta didik baru kelas 1 beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
“Pembukaan MPLS ditandai dengan penyematan tanda peserta kepada siswa kelas 1. Tujuannya mengenalkan lingkungan sekolah sekaligus menciptakan suasana yang nyaman bagi mereka,” katanya.
Baca Juga:Hafal Alquran, Jago Basket, SMP Al Hikmah 2 Raih Juara di UGJAPILL Empat Fase Tingkatkan Keselamatan
Selama MPLS, siswa diperkenalkan dengan ruang kelas, guru, fasilitas sekolah, serta mengikuti berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk membangun rasa percaya diri.
“Intinya mengenalkan lingkungan sekolah dan membuat anak-anak merasa nyaman,” tambahnya.
Kemeriahan hari pertama sekolah juga terasa di SDN Taman Kalijaga Permai. Ratusan siswa baru mengikuti MPLS dengan penuh antusias. Halaman sekolah dipenuhi siswa kelas 1 yang mengenakan seragam lengkap, sebagian memakai rompi biru, sementara lainnya mengenakan seragam putih-merah lengkap dengan topi dan kartu identitas.
Pembukaan MPLS di sekolah tersebut berlangsung semarak melalui pelepasan balon merah putih yang membawa spanduk bertuliskan “MPLS Ramah Anak”. Saat balon membubung ke langit, sorak gembira dan tepuk tangan para siswa menggema di halaman sekolah.
Suasana yang semula dipenuhi rasa canggung semakin cair ketika para guru tampil mengajak siswa mengikuti senam bersama yang dikemas secara ceria dan interaktif. Perlahan, anak-anak mulai tersenyum dan ikut bergerak mengikuti irama.
Antusiasme juga datang dari para orang tua. Sejumlah wali murid tampak memenuhi area sekitar kelas untuk menyaksikan sekaligus mengabadikan momen hari pertama sekolah anak-anak mereka.
Salah seorang wali murid, Linda (34), mengaku sengaja meluangkan waktu untuk mengantar anak pertamanya masuk sekolah.
“Rasanya campur aduk. Senang karena anak saya sudah mulai sekolah, tetapi juga khawatir apakah nanti dia bisa beradaptasi atau masih menangis di kelas,” ujarnya.
Baca Juga:Jalan Cimanuk Mulai Diperbaiki, Ditargetkan Rampung dalam 40 HariMusim Kelulusan, Pembuatan Kartu AK-1 di Kota Cirebon Meningkat
Di balik kemeriahan itu, para guru menyadari tantangan sesungguhnya baru dimulai. Menurut Nasiah, masa transisi dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar umumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan. Pada fase tersebut, guru tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan layaknya orang tua.
