RADARCIREBON.ID – Setiap pagi, ratusan siswa SDN 1 Gujeg, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, biasanya menunggu datangnya paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang digagas untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah itu semula disambut antusias. Namun, suasana berubah ketika kualitas makanan mulai dipertanyakan.
Kekhawatiran orang tua dan pihak sekolah memuncak setelah pada 29 Juli 2026 ditemukan puluhan porsi menu ayam yang diduga sudah berbau sebelum sempat disantap siswa. Beruntung, makanan tersebut tidak dibagikan sehingga tidak ada siswa yang mengalami gangguan kesehatan.
Insiden itu menjadi puncak dari serangkaian temuan yang sebelumnya juga terjadi. Pihak sekolah mengaku pernah menemukan ulat pada mi dan sayuran, serta buah apel yang sudah membusuk dalam paket makanan yang diterima siswa.
Baca Juga:Pemkab Cirebon Siasati Efisiensi Anggaran, Pacu Potensi PAD hingga Cari Solusi Penanganan SampahRekayasa Lalin: Solusi atau Ilusi? Pemkot Cirebon Mau Pilih Jalan Lancar atau Setoran PAD dari Parkir?
Berangkat dari kondisi tersebut, sekolah menggelar rapat bersama orang tua siswa pada 1 Agustus 2026. Hasilnya, seluruh pihak sepakat menghentikan sementara pelaksanaan Program MBG mulai Senin (3/8/2026) hingga kualitas makanan benar-benar dapat dipastikan aman untuk dikonsumsi.
Kepala SDN 1 Gujeg, Dedi Sutardi, menegaskan keputusan tersebut bukan merupakan kebijakan sepihak sekolah.
“Ini hasil kesepakatan bersama orang tua siswa, bukan keputusan sekolah sendiri,” ujarnya.
Menurut Dedi, sekolah tetap mendukung Program MBG karena memiliki tujuan yang baik dalam meningkatkan gizi peserta didik. Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan, melainkan juga kualitas dan keamanannya.
“Kami mendukung programnya, tetapi kualitas makanan harus benar-benar terjamin,” tegasnya.
Bagi para orang tua, keputusan tersebut bukan sekadar menghentikan distribusi makanan, melainkan bentuk perlindungan terhadap anak-anak mereka. Salah seorang wali murid, Turkani, mengaku anaknya sudah beberapa kali menolak menyantap makanan dari program tersebut karena khawatir dengan kualitasnya.
“Keselamatan anak jauh lebih penting,” katanya singkat.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Desa Gujeg, Susmaya. Ia menilai Program MBG merupakan kebijakan yang sangat baik untuk mendukung pemenuhan gizi anak sekolah. Namun, pelaksanaannya harus memenuhi standar keamanan pangan agar tujuan mulia program tidak justru menimbulkan persoalan baru.
“Programnya bagus, tetapi pelaksanaannya harus sesuai standar,” ujarnya.
Saat ini, SDN 1 Gujeg memiliki 160 siswa. Sebelum dihentikan sementara, sebanyak 171 porsi makanan didistribusikan setiap hari, termasuk untuk para guru.
