RADARCIREBON.ID – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon mengklaim penarikan retribusi pasar melalui sistem EIRPASS (Electronic Retribusi Pelayanan Pasar) berjalan optimal. Sistem itupun disebut-sebut mampu mengurangi tingkat kebocoran.
Bahkan, Disdagin mencatat, realisasi penerimaan retribusi dari sembilan pasar daerah baru mencapai Rp1.993.726.500 atau 62,18 persen dari target tahun 2026 sebesar Rp3.206.500.000.
Artinya, masih ada kekurangan sekitar Rp1.212.773.500 yang harus dikejar hingga akhir tahun.
Baca Juga:Wilayah Argasunya Krisis Air Bersih dan KekeringanKerusakan GTC Makin Parah, Pemkot Didesak Segera Ambil Alih
Dari sembilan pasar milik Pemkab Cirebon, Pasar Babakan menjadi pasar dengan capaian tertinggi. Penerimaannya menyentuh 78,80 persen dari target. Disusul Pasar Cipeujeuh sebesar 78,10 persen dan Pasar Batik sebesar 71,41 persen.
Sebaliknya, Pasar Palimanan menjadi pasar dengan capaian paling rendah. Dari target Rp521,16 juta, penerimaan baru mencapai Rp241,88 juta atau 46,41 persen.
Kondisi itu menjadikan Palimanan sebagai pasar terendah dalam penerimaan retribusi. Sementara itu, pasar dengan target retribusi terbesar masih dipegang Pasar Pasalaran sebesar Rp925,58 juta. Namun hingga akhir Juli, realisasinya baru Rp553,79 juta atau 59,83 persen.
Kabid Sarana dan Pelaku Distribusi Disdagin Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono menjelaskan, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan transparansi dan efektivitas penarikan retribusi melalui sistem EIRPASS.
Aplikasi tersebut merupakan pengembangan dari sistem sebelumnya, yakni M-Post, yang dirancang untuk mempermudah pedagang melakukan pembayaran retribusi secara digital sekaligus meminimalkan potensi kebocoran penerimaan daerah.
Meski demikian, penerapan sistem digital itu belum sepenuhnya berjalan mulus. Masih ada sebagian pedagang yang memilih membayar secara tunai.
“Belum seratus persen menggunakan aplikasi. Khususnya pedagang yang sudah sepuh. Mereka masih lebih nyaman membayar secara konvensional atau cash,” ujar Teguh kepada Radar Cirebon, kemarin.
Baca Juga:Pelatihan Wirausaha bagi Ahli Waris Peserta BPJS KetenagakerjaanIndocement Tanam Pohon dan Serahkan Puluhan Monyet Ekor Panjang ke BBKSDA
Selain faktor usia pedagang, kendala teknis juga masih ditemui. Pada waktu-waktu tertentu, terutama saat akhir pekan, sistem terkadang mengalami perlambatan sehingga transaksi digital tidak bisa berlangsung optimal.
Meski demikian, kata Teguh, penggunaan EIRPASS terus mengalami peningkatan. Saat ini hanya sekitar 20 persen transaksi retribusi yang masih dilakukan secara tunai melalui koordinator pasar. Selebihnya sudah menggunakan aplikasi EIRPASS.
“Kurang lebih tinggal 20 persen yang masih melalui koordinator pasar. Sisanya sudah menggunakan EIRPASS,” katanya.
