RADARCIREBON.ID – Pemerintah Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, menggelar tradisi Ratib Keliling sebagai bentuk ikhtiar batin dalam menghadapi musim bala. Seperti ancaman wabah penyakit dan krisis kekeringan. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (11/8) malam.
Tradisi ini dipimpin langsung oleh Kuwu Krasak, Khairul Isma Arif, bersama para tokoh agama dan sejumlah elemen masyarakat setempat. Dengan mengenakan busana serba putih, rombongan berangkat dari titik kumpul di Alun-alun Desa Krasak.
Mereka kemudian berjalan menyusuri berbagai sudut desa sambil melantunkan zikir dan memanjatkan doa. Prosesi tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar seluruh warga Desa Krasak senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan, serta dijauhkan dari berbagai musibah dan marabahaya.
Baca Juga:Apel Siaga Tanggap Bencana Karhutla 2026, Polres Majalengka Perkuat Sinergi Lintas Lembaga dan Masyarakat Bupati Lucky Hakim Targetkan 2.200 Program Rutilahu Tahun 2026
Kuwu Krasak, Khairul Isma Arif mengatakan, Ratib Keliling merupakan tradisi yang telah dilakukan masyarakat desa pada bulan yang dianggap sebagai bulan bala. Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan ketika terdapat ancaman wabah penyakit maupun ketika masyarakat menghadapi musibah, seperti kondisi kekeringan yang terjadi saat ini.
Ia menjelaskan, pelaksanaan tradisi Ratib Keliling dilakukan secara berkala pada bulan-bulan yang dianggap rawan terhadap datangnya musibah atau ketika desa sedang menghadapi ancaman nyata seperti wabah penyakit dan kemarau panjang.
Penentuan waktu pelaksanaan Ratib Keliling dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama. Keputusan tersebut diperoleh melalui musyawarah antara ulama dan umaro atau pemerintah desa. “Sekarang kita semua, bukan hanya di Kabupaten Indramayu, tetapi di daerah lainnya juga sama sedang dilanda kekeringan. Melalui Ratib Keliling ini, kita berdoa bersama agar apa yang dialami saat ini, khususnya kekeringan, bisa segera berakhir,” ujar Arif.
Pelaksanaan tradisi tersebut juga memiliki nuansa yang unik dan sakral. Salah satu ketentuan yang menjadi bagian dari prosesi adalah seluruh peserta diwajibkan mengenakan pakaian berwarna putih. Tidak hanya itu, seluruh lampu penerangan di wilayah Desa Krasak juga dipadamkan selama prosesi berlangsung. Kondisi tersebut dipertahankan hingga seluruh rangkaian Ratib Keliling selesai dilaksanakan.
Menurut Arif, kegiatan tersebut merupakan bentuk ikhtiar bersama yang melibatkan pemerintah desa, tokoh agama, dan seluruh lapisan masyarakat. Ia berharap, doa yang dipanjatkan bersama dapat menjadi bagian dari usaha masyarakat dalam menghadapi kondisi kekeringan yang sedang terjadi.
