RADARCIREBON.ID -Lantunan Mijil Hayataan mengalun di Ruang Utama Pengguron Tharekat Agama Islam Pegajahan Cirebon. Tradisi tersebut menjadi bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung khidmat sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi.
Peringatan tersebut dihadiri jamaah Pengguron Pegajahan, keluarga besar Kesultanan Cirebon, khususnya Kesultanan Kanoman dan Kacirebonan, Pengguron Kaprabonan, serta masyarakat sekitar.
Bagi Pengguron Pegajahan, Mijil Hayataan bukan sekadar rangkaian acara muludan. Tradisi religius tersebut menjadi bagian dari khazanah budaya Cirebon yang memadukan nilai-nilai Islam dengan warisan leluhur.
Baca Juga:Menginap di Aston Cirebon Jadi Momen Berkesan bagi Suhadi Veteran Operasi DwikoraCuma Sita Enam Botol Miras, Polisi “Obok-obok” Tempat Hiburan Malam di Kompleks CSB
Pengasuh Pengguron Pegajahan Cirebon, Elang Bagoes Candra Kusuma Ningrat, mengatakan peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga sarana menanamkan kecintaan kepada Rasulullah kepada generasi muda.
“Muludan ini menjadi momentum untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW, mengenal perjuangan beliau, serta menanamkan kecintaan kepada Rasulullah kepada keluarga, jamaah, dan generasi muda,” ujar Elang Bagoes.
Menurutnya, pelestarian tradisi harus dibarengi pemahaman terhadap nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya. Hal itu penting agar generasi muda tidak hanya mengenal bentuk tradisi, tetapi juga memahami makna keagamaannya.
“Mijil Hayataan adalah bagian dari kekayaan tradisi yang harus kita jaga. Tradisi boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai kebaikan dan pesan yang diwariskan para leluhur harus tetap dipertahankan,” katanya.
Selain menjadi sarana keagamaan, muludan juga menjadi ruang perjumpaan jamaah, keluarga besar kesultanan, dan masyarakat. Tradisi tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya masih memiliki tempat dalam kehidupan sosial masyarakat Cirebon.
Elang Bagoes berharap kegiatan muludan di Pengguron Pegajahan dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan dan menjadi sarana memperkuat persaudaraan serta kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Yang paling penting adalah bagaimana tradisi ini tetap memiliki ruh. Kita berkumpul, bershalawat, mengenang Rasulullah dan menjaga silaturahmi. Nilai-nilai itulah yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus,” pungkasnya. (cep)
