UMC Ubah Desa Cibunut Jadi Kampus Terbuka: Belajar Langsung dari Denyut Nadi Masyarakat

Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) di Cibunut
Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menghadirkan terobosan baru dalam dunia pendidikan tinggi melalui konsep Living Laboratory Learning (3L) di Desa Cibunut.
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menghadirkan terobosan baru dalam dunia pendidikan tinggi melalui konsep Living Laboratory Learning (3L). Desa Cibunut, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, kini menjelma menjadi ruang belajar alternatif bagi mahasiswa, bukan sekadar tempat kuliah di dalam kelas, melainkan laboratorium hidup yang bernapas bersama masyarakat.

Melalui program 3L, mahasiswa diajak menyelami realitas desa secara langsung. Mereka tidak hanya duduk mendengarkan teori, tetapi juga mengeksplorasi potensi lokal, memahami dinamika sosial-ekonomi warga, hingga menghadapi tantangan nyata yang muncul di lapangan. Desa pun berubah fungsi: dari sekadar lokasi pengabdian menjadi pusat pembelajaran yang kaya makna.

Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat UMC, Johan MT, menjelaskan bahwa 3L merupakan gagasan strategis untuk membangun laboratorium berbasis desa. Saat ini, program tersebut telah menjangkau wilayah 3 Cirebon, termasuk Kabupaten Majalengka.

Baca Juga:Komando Penaburan Benih Serentak 2026, Perhutani KPH Kuningan Targetkan 76 Ribu Bibit Pinus 3 Hari di Medan Terjal Karhutla Ciremai, Kolaborasi Pemerintah dan Relawan MPA Sukses Padamkan Karhutla

“3L adalah program yang digagas Pak Rektor untuk menjawab kebutuhan zaman. Universitas harus memiliki laboratorium berbasis desa. Desa adalah tulang punggung kemajuan Indonesia,” ujar Johan.

Ia menambahkan, konsep living laboratory menempatkan lingkungan masyarakat sebagai ruang belajar yang autentik. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program, tetapi juga dilatih untuk berkomunikasi, berkolaborasi, merancang solusi, dan menyusun langkah nyata dalam menghadapi persoalan masyarakat.

Rektor UMC, Arif Nurudin, S.T., M.T., menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, laboratorium berbasis desa adalah wujud nyata pembelajaran kontekstual yang selama ini didambakan.

“Laboratorium tidak melulu harus berada di kampus. Desa, dengan segala potensi dan problematikanya, adalah ruang belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa,” tutur Arif.

Ia berharap, program ini semakin mempererat jalinan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus memberi dampak positif bagi warga desa.

Melalui 3L, UMC bercita-cita menjadikan desa bukan hanya sebagai tempat singgah mahasiswa, tetapi sebagai ruang belajar bersama. Interaksi semacam ini diyakini mampu menghadirkan pengalaman akademik yang lebih membumi sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Aparat Pemerintahan Desa Cibunut bersama warga menyambut antusias kehadiran program ini. Mereka berharap kolaborasi tersebut membawa perubahan positif dan berkelanjutan bagi desa dan dunia pendidikan.

0 Komentar