RADARCIREBON.ID-Institut Prima Bangsa (IPB Cirebon) kembali berkolaborasi dengan Festival Film Bahari (FFB) ke-9, Jumat (30/10).
Pemutaran film pendek ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengenal keragaman budaya sekaligus memahami berbagai persoalan lingkungan.
Humas IPB Cirebon, Cici Situmorang mengatakan, pihaknya menyambut baik kolaborasi tersebut.
Baca Juga:Polres Kuningan Ungkap 9 Kasus, Amankan 16 TersangkaPolisi Sita 1.708 Botol Miras, Kapolres Kuningan Tegaskan Ormas Dilarang Sweeping
Menurutnya, film tidak hanya menjadi media hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran yang dapat membuka wawasan mahasiswa mengenai kehidupan sosial, budaya, dan persoalan lingkungan.
“Melalui Festival Film Bahari ini, mahasiswa bisa mengenal berbagai budaya sekaligus melihat kompleksitas persoalan lingkungan. Film-film yang ditampilkan juga membawa banyak pesan moral yang relevan dengan kondisi saat ini,” ujarnya.
Sejumlah film pendek yang diputar antara lain I Am a River, One Step from Never, Plastic Peril, dan The Magic Garden.
Film-film tersebut menghadirkan cerita dan perspektif yang dapat mengajak mahasiswa memahami hubungan manusia dengan alam serta pentingnya menjaga lingkungan.
Berbeda dengan kolaborasi sebelumnya yang melibatkan UKM Simfoni Jiwa, pelaksanaan FFB tahun ini di IPB Cirebon mendukung pembelajaran mata kuliah Character Building yang diampu Cici.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak mengambil pelajaran dari cerita film sekaligus membangun kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya.
Selain memperkaya wawasan, pemutaran film berbahasa Inggris ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal kosakata baru dan melatih kemampuan memahami bahasa Inggris melalui dialog serta konteks cerita.
Baca Juga:Diskominfo Kuningan Perluas Tanda Tangan Elektronik hingga Pemerintahan DesaKorupsi Dana Desa Paniis Rp530 Juta, Kades Terancam 20 Tahun Penjara
Cici mengaku senang karena film-film yang ditampilkan mengandung banyak pesan moral, terutama di tengah kondisi lingkungan yang memprihatinkan.
Berbagai bencana alam, kerusakan hutan, hingga kebakaran hutan menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ia berharap, kolaborasi ini tidak hanya menambah wawasan mahasiswa, tetapi juga memberikan inspirasi untuk mengembangkan kreativitas, memperluas cara pandang, dan menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan sosial maupun lingkungan.
“Kami juga mengapresiasi FFB ke-9 yang telah mengkurasi film-film yang sangat baik sekali, sehingga film-film yang diampilkan sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini. Dan mahasiswa juga sangat tertarik untuk mengikuti film-film tersebut,” pungkasnya. (awr)
