RADARCIREBON.ID- Penyebab keracunan masal pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari dapur atau SPPG Kalijaga 05, Harjamukti, mulai terkuak. Dua pekan setelah peristiwa itu, Dinkes Kota Cirebon akhirnya mendapatkan hasil uji laboratorium dari sampel makanan yang sebelumnya dikirim ke Labkesda Jabar.
Kamis (5/11/2026), Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon dr Siti Maria Listiawaty membeberkan hasil uji laboratorium itu. Kata dr Maria, ditemukan kandungan zat kimia serta pertumbuhan bakteri patogen pada sampel makanan tersebut.
Ia menjelaskan, pengujian dilakukan secara bertahap, dimulai dari uji kualitas air hingga pengujian kandungan kimia dan mikrobiologi pada makanan. Hasil uji air di lokasi SPPG menunjukkan seluruh parameter, baik air galon, PDAM, maupun air tanah, berada dalam batas normal.
Baca Juga:Istana: Listyo Cs Mengarah Makar, KSP Kini Dipegang Letjen TNI Aryo WindutomoBos Baru BUMD DIlantik, Cherbon Nagari Dikejar Target Setahun Cetak PAD, PDAM Siap Benahi Pelayanan
Namun, hasil uji kimia dan biakan kuman menunjukkan temuan yang signifikan. “Dalam hasil pemeriksaan kimiawi ini memang ditemukan adanya nitrit, nitrit itu pada sayur dan juga nasi,” ujarnya.
Menurut dr Maria, nitrit dapat terbentuk melalui proses perubahan nitrat yang melibatkan aktivitas bakteri. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan pengolahan makanan yang terlalu lama serta penerapan rantai pendinginan atau cold chain yang tidak berjalan optimal.
Pihaknya menduga makanan telah melewati batas waktu penyimpanan aman, yakni sekitar empat jam, sehingga berpotensi memicu pertumbuhan mikroorganisme. “Kenapa bakteri itu datang? Karena mungkin tadi, ada biasanya karena waktu, waktu dan juga rantai dingin yang tidak terpenuhi. Mungkin waktunya sudah melebihi 4 jam,” imbuhnya.
Tak hanya menemukan kandungan nitrit, pemeriksaan mikrobiologi juga mengidentifikasi pertumbuhan bakteri yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Pada komponen menu telur puyuh, laboratorium mendeteksi bakteri Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus.
Sementara itu, temuan Bacillus cereus dan hasil biakan bakteri lainnya juga teridentifikasi pada sejumlah sampel lain, termasuk wortel, nasi, dan orek tempe. “Ditemukan untuk yang sub telur puyuh itu adanya Staphylococcus aureus dan juga ditemukan selain Staphylococcus aureus, itu ditemukan adanya Bacillus cereus,” kata dr Maria.
Temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa dan guru setelah mengonsumsi menu MBG tersebut. Kombinasi pertumbuhan koloni bakteri inilah yang dinilai mendukung timbulnya gejala keracunan makanan.
