JAKARTA – Para pengunjuk rasa di seluruh dunia turun ke jalan lagi pada hari Jumat (5/6), meskipun aksi massa ini dilakukan di tengah pandemi virus corona. Gelombang kemarahan atas kematian George Floyd di Amerika Serikat dan rasisme terhadap minoritas telah menjadi isu warga dunia.
Kematian Floyd, dan perlakuan polisi kepadanya telah mengguncang Amerika Serikat. Demonstrasi besar-besaran juga terjadi di Jerman. Di mana lebih dari 10.000 orang berkumpul di Frankfurt dan Hamburg.
Mereka membawa spanduk dengan slogan-slogan seperti: “Rasa Sakitmu adalah Rasa Sakitku, Perjuanganmu adalah Perjuanganku”.
Satu poster di unjuk rasa Frankfurt bertanya: “Berapa Banyak yang Difilmkan?” mengacu pada fakta bahwa kasus Floyd tertangkap kamera di Minneapolis.
Ketika pihak berwenang di banyak bagian memperingatkan tentang risiko infeksi covid-19 dari pengumpulan massa, banyak pemrotes mengenakan topeng anti-coronavirus. Sebagian berwarna hitam atau dengan gambar kepalan tangan yang terkepal.
Di Trafalgar Square, London, belasan orang berlutut sebagai simbol keprihatinan. “Ada banyak percakapan tidak nyaman, dan itu bisa menciptakan ketegangan. Apakah itu di keluarga Anda atau dengan teman-teman Anda atau di tempat kerja Anda,” kata pekerja firma hukum Ada Offor, di Trafalgar Square.
Di Australia, demonstran berkumpul di Gedung Parlemen di Canberra. Unjuk rasa tetap berlangsung, meskipun ada upaya oleh pihak berwenang untuk menghentikan aksi ini karena ada potensi penyebaran virus corona.
Sementara di Austria, demonstran berkumpul di dekat Kedutaan Besar AS, memegang spanduk dengan slogan-slogan seperti “Tidak Ada Ras Hanya Satu Spesies”, sementara di Norwegia polisi membiarkan ribuan orang memprotes walaupun pihak berwenang mengatakan hanya 50 yang akan diizinkan.
