Kronologi pasien bunuh diri dengan cara gantung diri coba diuraikan pihak RSUD Arjawinangun. Pasien itu disebut masih sempat ditolong oleh tim medis. Saat diturunkan, masih ada detak jantung. Tapi, akhirnya tak tertolong.
CECEP NACEPI, Cirebon
MALAM itu petugas sedang memberikan obat kepada pasien. Dari satu ruangan ke ruang lainnya. Pemberian obat itu dilakukan dari ruang sebelah barat hingga ke ruang sebelah timur.
“Pada saat sampai di kamar sebelah timur, di ruang aditasi, terlihatlah pasien dalam keadaan gantung diri. Petugas buru-buru mengambil kunci untuk membuka kunci yang 2 lapis. Kunci pertama untuk pintu teralis luar, dan kunci kedua untuk pintu teralis lapis dalam,” jelas Kasi Pelayanan Medis RSUD Arjawinangun dr H Edi Jubaedi MM, kemarin.
Ruangan sebelah timur paling ujung, kata Edi, adalah ruang aditasi. Di situlah pasien S menjalani perawatan. Di kamar itulah, korban gantung diri menggunakan sarung.
Edi mengakui saat pasien diturunkan dan diperiksa masih ada detak jantungnya. “Kemudian kita lakukan resusitasi yaitu tindakan pemberian napas agar dapat bernapas normal kembali. Namun setelah dilakukan resusitasi, pasien tak dapat bernapas dan akhirnya tidak tertolong,” katanya.
Edi lalu menjelaskan soal ruangan-ruangan khusus untuk orang yang dirawat karena mengalami gangguan jiwa. Alur perawatan jiwa di RSUD Arjawinangun dibagi tiga kategori. Di antaranya ruangan aditasi, ruangan semi tenang, dan ruangan tenang. Ruang aditasi merupakan ruang khusus untuk pasien dalam kondisi berat. Di situ tertutup sendiri dan diisolasi dengan pintu teralis dua lapis. Atap ruangan pun rapat dengan teralis. Di situlah S ditempatkan.
Itu berbeda dengan ruang perawatan semi tenang. Di ruang semi tenang, pasien dibebaskan bergerak, tapi masih dalam keadaan dibatasi dan tak berbaur dengan pasien lain. Sedangkan untuk ruang perawatan tenang, dikhususkan bagi pasien yang bisa dirawat dan bergaul interaksi dengan pasien-pasien lain di bawah bimbingan petugas.
Edi menjelaskan, S merupakan pasien yang ada di ruang aditasi. Di ruangan itu, pasien juga mendapatkan perawatan khusus. Bahkan, obat yang diberikan juga merupakan obat khusus. “Jadi ruangan aditasi ini untuk pasien yang masih ngamuk-ngamuk. Pengawasannya 24 jam harus diawasi. Karena pada saat itu bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena banyak kejadian di luar perkiraan,” ujarnya.
Petugas Terobos Pintu Berlapis RSUD Arjawinangun, Sempat Ada Detak Jantung
