KANADA – FIFA World Cup 2026 diprediksi menjadi salah satu turnamen sepak bola terbesar sepanjang sejarah. Dengan format baru yang melibatkan 48 negara peserta serta pertandingan yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, ajang ini diperkirakan akan menarik jutaan pendukung dari berbagai negara.
Meski demikian, menjelang dimulainya turnamen, kondisi di sejumlah kota tuan rumah justru belum menunjukkan antusiasme seperti yang diharapkan. Sejumlah hotel di beberapa wilayah Amerika Serikat dilaporkan masih mencatat tingkat hunian rendah, padahal perhelatan Piala Dunia tinggal beberapa pekan lagi.
Situasi tersebut mulai memunculkan kekhawatiran di sektor pariwisata dan perhotelan. Pasalnya, ajang sebesar Piala Dunia biasanya menjadi momentum besar bagi industri perjalanan, hotel, hingga pelaku usaha lokal untuk meraup keuntungan.
Baca Juga:Hidupkan UMKM di Indramayu, Pemkab Perluas Area CFNModernisasi Pertanian di Indramayu, Sistem PM-AAS Bisa Hasilkan 10 Ton per Hektare
Berdasarkan laporan American Hotel & Lodging Association yang dikutip dari Marca.com, Minggu (17/5), hampir 80 persen pengelola hotel di 11 kota tuan rumah di Amerika Serikat mengaku jumlah pemesanan kamar masih belum mencapai target yang diharapkan.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah tingginya biaya perjalanan yang harus ditanggung para suporter. Harga tiket pertandingan menjadi sorotan terbesar. Di pasar penjualan ulang atau resale, tiket fase grup masih dijual di kisaran 560 dolar AS atau sekitar Rp9 juta. Bahkan, untuk laga-laga tertentu, harga tiket disebut bisa mencapai lebih dari 1.000 dolar AS.
Mahalnya harga tiket membuat banyak penggemar memilih menunda pembelian atau menunggu harga turun mendekati jadwal pertandingan. Selain persoalan tiket, proses pengurusan visa juga dinilai memengaruhi minat wisatawan internasional. Sejumlah calon penonton masih menghadapi kendala administrasi untuk masuk ke Amerika Serikat.
Belum lagi harga tiket pesawat dan biaya penginapan yang ikut meningkat seiring tingginya permintaan selama turnamen berlangsung.
Dampak kondisi tersebut mulai terlihat di beberapa kota penyelenggara. Di Vancouver, tingkat okupansi hotel saat hari pertandingan dilaporkan hanya mencapai sekitar 39 persen, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, di Boston, tingkat pemesanan hotel menjelang laga Norwegia melawan Irak juga disebut masih relatif rendah.
