Mengapa Orang Indonesia Suka Foto dengan Bule? Ternyata Ini Alasannya

alasan orang indonesia suka foto dengan bule
Alasan orang Indonesia suka foto dengan bule. Simak penjelasan berikut ini. Foto: Yuda Sanjaya - RADARCIREBON.ID
0 Komentar

“Yang kalah selalu ingin meniru pemenang dalam hal lambang, pakaian, pekerjaan, dan seluruh kondisi serta adat-istiadatnya,” begitu pendapat Ibn Khaldun.

Mengapa? “Sebab jiwa melihat kesempurnaan pada orang yang mengalahkannya. Jiwa meyakini bahwa ia kalah karena si pemenang lebih sempurna.”

Logika ini sangat penting. Saat seseorang dikalahkan, secara alami merasa lemah. Untuk mencari pembenaran dan pelipur, maka membentuk keyakinan baru: “Saya kalah karena mereka memang lebih hebat dari saya.”

Baca Juga:Zohran Mamdani, Muslim Pertama Calon Wali Kota New York, Bikin Trump Naik PitamMiris Kehidupan Lansia di Barat, 1 dari 4 Tinggal Sendirian, Banyak yang Meninggal Sebatang Kara

Dari sanalah lahir keinginan meniru: gaya bicara, cara berpakaian, bahkan cara berpikir si pemenang. Dalam istilah modern, ini disebut sebagai “inferiority complex”. Atau perasaan bawah sadar bahwa diri kita lebih rendah dari orang lain yang menang.

Peniruan bukan karena mereka hebat. Tapi karena takut dikatakan ketinggalan zaman. Sebagian orang membela peniruan ini dengan berkata: “Ya wajar dong meniru bangsa maju, mereka kan lebih modern, lebih keren.”

Tapi pertanyaannya, apakah yang ditiru adalah kemajuan ilmunya, sistem hukumnya, atau teknologinya? Jawabannya, sering kali tidak.

Yang ditiru justru bajunya yang terbuka. Musiknya yang hedonis. Gaya pacarannya. Bahasanya yang justru mempermalukan bahasa ibu. Serta gaya hidup individualis dan konsumeris.

Waktu dijajah Belanda, mereka mempunyai sekolah, teknologi, rumah batu, sepatu, dan gaya hidup yang terlihat “mewah”. Sementara kita hanya jadi pekerja. Pembantu. Kuli. Hidup sederhana.

Maka muncul rasa kagum. Lalu menjadi rasa inferior. Lalu menjadi keinginan untuk “seperti mereka”. Mulailah meniru pakaian mereka. Cara duduk mereka.Bahasa mereka. Lambang-lambang kekuasaan mereka.

Sehingga rasa rendah diri dari menimbulkan keinginan untuk menyamai orang yang lebih tinggi. Meniru gaya pakaian. Meniru cara makan. Meniru tata bahasa. Meniru selera musik, selera arsitektur, selera hiburan, bahkan cara mereka hidup dan berpikir.

Baca Juga:Menyoal Rumah Netanyahu, Diambil Paksa Negara dari Seorang Dokter PalestinaMenyoal Rumah Netanyahu, Diambil Paksa Negara dari Seorang Dokter Palestina

Bahkan setelah merdeka pun, tapi mentalnya masih “jajahan”. Padahal dulu bangsa Eropa yang meniru umat Islam. Saat dunia Islam berjaya, saat Baghdad, Kairo, Damaskus, dan Cordoba menjadi pusat ilmu dan kebudayaan.

0 Komentar