RADARCIREBON.ID – Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,12 persen pada semester pertama tahun 2025 ini.
Tapi, banyak yang mengatakan jika kenaikan tersebut kurang dirasakan dampaknya oleh masyarakat luas. Bahkan, akhir-akhir ini justru hidup makin berat.
Kondisi pertumbuhan seperti itu, menurut konsultan keuangan “100 Juta Pertama” dalam unggahan di media sosial X, bisa jadi hanya immiserizing growth.
Baca Juga:Gempa Kamchatka Rusia Tak Ada Apa-apanya, Zona Megathrust Indonesia Lebih DahsyatGelombang Tsunami Rusia Sudah Sampai Jepang, BMKG: Sampai di Indonesia Pukul 14.52 WITA
Lalu apa immiserizing growth? Simpelnya, menurut akun itu, immiserizing growth itu artinya pertumbuhan ekonomi yang justru menyengsarakan.
Dijelaskan kondisi seperti ini, salah satu cirinya tumbuhnya kemiskinan. Atau pertumbuhan ekonomi tak dirasakan oleh semua kalangan.
Soalnya, lanjut akun itu, salah satu profesor di Unpad bilang, jika Indonesia mengalami immiserizing growth dalam 5 tahun terakhir (2019-2024).
Dalam konteks saat ini pun, ketika ekonomi tumbuh 5,12%, Indonesia mungkin mengalami hal yang sama.
Kenapa? Soalnya, secara makro ekonomi Indonesia tumbuh, malah katanya di luar ekspektasi. “Tapi apakah pertumbuhan ini udah dirasakan semua kalangan,” tanya akun itu.
Soalnya, berdasarkan data, kelas menengah di Indonesia dalam 5 tahun terakhir jumlahnya terus turun. Jumlah kelas menengah di tahun 2019 ada 57,33 juta jiwa. Per 2024, jumlahnya turun menjadi 47,85 juta jiwa.
Hal ini tandanya, banyak kelas menengah yang lagi turun kelas. Kondisi yang sama juga kurang lebih dirasakan mereka yang rentan miskin. Angkanya pun terus naik. Dari 54,97 juta jiwa pada 2019, naik menjadi 67,69 juta jiwa di tahun 2024.
Baca Juga:Gempa Bumi Rusia, BMKG Prediksi Tsunami sampai ke Indonesia Pukul 14.52 WITADampak Gempa Kamchatka Rusia, 10 Pesisir di Indonesia Berpotensi Tsunami Mulai Pukul 14.20 WITA
Kenaikan jumlah orang yang rentan miskin dan turunnya orang yang berstatus kelas menengah ini, seharusnya menjadi “alarm”. Jika sebenernya sebagian besar masyarakat Indonesia sedang rentan miskin.
Walaupun kelompok menuju menengah menjadi mayoritas kelas di Indonesia, tapi mereka pun sebenernya rentan.
Kenapa rentan? Soalnya, kalau ada “guncangan” ekonomi, kelas-kelas yang di atas kelompok miskin bisa turun kelas. Guncangan itu seperti kenaikan harga pokok atau PHK.
Di sisi lain, kelas di atas kategori miskin kurang mendapatkan bantuan-bantuan sosial. Tak elak, guncangan ekonomi sudah mulai dirasakan kelas menengah.
Ini terlihat dari kecenderungan mereka menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda, kalau harga kebutuhan sedang naik, tapi penghasilan mereka tak bisa menutupinya.
