KUNINGAN – Di tengah gencarnya dorongan pengembangan pariwisata berbasis desa, Bumi Perkemahan (Buper) Singkup di Kecamatan Japara mulai mencuri perhatian sebagai salah satu potensi yang selama ini belum tergarap optimal.
Langkah awal pengembangan pun mulai terlihat. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kuningan turun langsung meninjau lokasi tersebut pada Selasa (14/4/2026).
Kunjungan dipimpin Kepala UPTD Pengelolaan Disporapar Kuningan Moch Budi Suparman, sebagai bagian dari upaya pemetaan sekaligus percepatan pengembangan potensi wisata desa.
Baca Juga:Lapas Kuningan Diteror Sanca 3 Meter, Damkar Evakuasi Dramatis Tengah MalamSDN Gandawesi 2 Viral di Medsos, Kondisi Ruang Kelas Rusak Bahayakan Siswa
Rombongan disambut perangkat Desa Singkup yang dipimpin Sekretaris Desa Irman Havid Firmansyah. Pertemuan berlangsung sederhana di sebuah saung di kawasan Buper Batu Lamar. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan pesan kuat: Buper Singkup tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.
Budi melihat kawasan ini memiliki prospek besar untuk dikembangkan ke depan. Menurutnya, secara lanskap, Buper Batu Lamar menawarkan bentang alam terbuka dengan udara sejuk serta kontur alami yang mendukung aktivitas perkemahan maupun wisata berbasis alam.
“Potensi alamnya sangat menjanjikan, namun belum sepenuhnya ditopang oleh pengelolaan yang terstruktur dan promosi yang masif,” ujar Mantan Lurah Cigadung, Kecamatan Cigugur tersebut.
Ia menegaskan, di titik inilah tantangan sekaligus peluang bertemu. Tanpa intervensi yang serius, Buper Singkup berisiko tetap menjadi “potensi diam”. Sebaliknya, dengan perencanaan matang—mulai dari penataan kawasan, peningkatan fasilitas dasar, hingga strategi pemasaran—lokasi ini berpeluang menjadi destinasi alternatif yang kompetitif.
“Pengembangan wisata desa bukan hanya soal destinasi, tetapi juga tentang perputaran ekonomi. Aktivitas wisata dapat menggerakkan sektor riil di tingkat lokal, mulai dari pelaku UMKM hingga jasa pendukung lainnya,” tambahnya.
Disporapar Kuningan tampaknya menyadari betul hal tersebut. Kunjungan ini menjadi sinyal bahwa pengembangan wisata tidak lagi terpusat, melainkan mulai menyasar titik-titik baru yang sebelumnya terpinggirkan.
Kini, bola ada di tangan semua pihak. Pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat dituntut bergerak seirama. Sebab jika tidak, potensi sebesar apa pun hanya akan tinggal sebagai catatan—tanpa pernah benar-benar menjadi kekuatan.
