RADARCIREBON.ID – Transformasi digital yang menggeser sistem manual ke era berbasis teknologi menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, khususnya dalam melindungi siswa dari paparan konten negatif.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, saat menjadi keynote speaker dalam seminar bertajuk “Peningkatan Kapasitas Guru BK dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan pada Anak di Lingkungan Sekolah”, Senin (20/4/2026), di Aula Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Cirebon.
Dalam paparannya secara daring, Herman menekankan pentingnya peran guru bimbingan dan konseling (BK) serta orang tua dalam mengimbangi pesatnya arus informasi. Menurutnya, di balik kemudahan akses informasi positif, terdapat ancaman serius berupa hoaks, konten kekerasan, hingga paham radikalisme yang mudah diakses siswa melalui media sosial.
Baca Juga:OC Strategy Bangun Komunitas Trader di Cirebon Hasil Muscab, 4 Calon Ketua PKB Cirebon Berebut Restu Cak Imin
“Jika peran guru, khususnya guru BK, serta orang tua tidak lebih cepat dan lebih baik dari perkembangan teknologi informasi, anak-anak akan terjebak dalam situasi yang dapat menurunkan kondisi mental mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, paparan konten negatif yang tidak terantisipasi dapat berdampak buruk terhadap perkembangan psikologis anak. Karena itu, kapasitas guru BK perlu terus ditingkatkan agar mampu memberikan pendampingan yang relevan di era digital sekaligus menjadi filter informasi bagi siswa.
Herman juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi psikologis siswa di tengah era disrupsi. Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dan berpotensi memicu kerentanan mental.
“Kita harus mewaspadai gangguan psikologis pada anak usia sekolah. Era disrupsi dan ketidakpastian dapat memicu kerentanan mental yang berujung pada tindakan fatal,” katanya.
Ia menyinggung salah satu kasus di Bandung, di mana seorang siswa SMK mengakhiri hidupnya di Jembatan Pasupati. Peristiwa tersebut dinilai sebagai fenomena gunung es, yang menunjukkan masih banyak kasus serupa yang tidak terungkap.
Melalui kegiatan ini, Herman berharap guru BK dapat meningkatkan kepekaan terhadap perubahan perilaku siswa, menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, serta memberikan pendampingan yang efektif bagi siswa yang mengalami tekanan mental.
