BPBD Gandeng Paguyuban Silihwangi Simulasi Karhutla

BPBD Kabupaten Majalengka bersama Paguyuban Silihwangi Majakuning menggelar simulasi penanggulangan karhutla
BPBD Kabupaten Majalengka bersama Paguyuban Silihwangi Majakuning menggelar simulasi penanggulangan karhutla di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai.
0 Komentar

MAJALENGKA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka memperkuat strategi mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan rawan Taman Nasional Gunung Ciremai, melalui kegiatan simulasi yang digelar pekan lalu.

Kegiatan Gladi Penanggulangan Bencana Karhutla tersebut dipusatkan di Bumi Perkemahan Panten, Desa Argalingga, Kecamatan Argapura. Simulasi ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional sekaligus upaya memperkuat respons cepat lintas sektor dalam menghadapi ancaman cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino.

Kepala Pelaksana BPBD Majalengka, Agus Tamim, mengatakan simulasi melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga komunitas masyarakat. Hal ini dilakukan seiring meningkatnya potensi kekeringan di wilayah lereng Gunung Ciremai.

Baca Juga:Selain Obyek Wisata, Panyaweuyan Juga Jadi Sentra Bawang MerahSita 150 Ribu Batang Rokok Ilegal di wilayah Utara Majalengka, Potensi Kerugian Negara Rp111 Juta

“Kondisi vegetasi yang mulai mengering akibat suhu tinggi dan kelembapan rendah berpotensi mempercepat munculnya titik api. Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh bersifat reaktif,” ujarnya, Senin (4/5/2026).

Menurutnya, sistem mitigasi harus dibangun secara komprehensif melalui pendekatan struktural dan nonstruktural, dengan fokus pada pencegahan serta penguatan kapasitas masyarakat.

“Mitigasi nonstruktural berkaitan dengan kesiapsiagaan dan pencegahan, sedangkan struktural menyangkut dukungan sarana dan sistem. Intinya, kita harus siap sebelum bencana terjadi,” tambahnya.

Agus menekankan pentingnya peran masyarakat desa penyangga kawasan hutan sebagai garda terdepan dalam penanggulangan karhutla. Warga dinilai memiliki pengetahuan lapangan dan kemampuan respons cepat saat kebakaran mulai terjadi.

Secara geografis, Kabupaten Majalengka memiliki kerentanan bencana yang kompleks, mulai dari wilayah pegunungan hingga dataran rendah. Kondisi ini memicu potensi bencana berlapis, seperti longsor dan banjir. Berdasarkan indeks kebencanaan, Majalengka berada di peringkat 15 di Jawa Barat dan 273 secara nasional dari total 514 kabupaten/kota.

Dalam simulasi tersebut, BPBD juga menyoroti dampak fenomena El Nino yang meningkatkan suhu udara dan menurunkan kelembapan, sehingga mempercepat kekeringan vegetasi, terutama di kawasan Argapura yang didominasi material mudah terbakar.

“Pada fase El Nino ekstrem, suhu bisa sangat tinggi pada jam-jam tertentu. Ini meningkatkan risiko karhutla, terutama di kawasan rawan seperti Ciremai,” tegasnya.

0 Komentar