Kegiatan ini juga menjadi momentum evaluasi kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi serta memperkuat koordinasi antarinstansi dalam sistem penanggulangan terpadu.
Dukungan terhadap upaya BPBD juga datang dari masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Paguyuban Silihwangi Majakuning yang terdiri dari Kelompok Tani Hutan (KTH) dan Masyarakat Peduli Api (MPA) menyatakan komitmennya untuk terlibat aktif dalam pencegahan karhutla berbasis komunitas.
Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nandar Junar Arif, mengatakan sinergi antara BPBD, pengelola taman nasional, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam deteksi dini dan pencegahan kebakaran.
Baca Juga:Selain Obyek Wisata, Panyaweuyan Juga Jadi Sentra Bawang MerahSita 150 Ribu Batang Rokok Ilegal di wilayah Utara Majalengka, Potensi Kerugian Negara Rp111 Juta
“Sebagai masyarakat desa penyangga, kami siap menjadi garda terdepan. Patroli rutin dan deteksi dini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat tidak hanya dalam simulasi, tetapi juga melalui patroli hutan, edukasi warga, serta pengawasan potensi sumber api di sekitar permukiman dan lahan pertanian.
Sebagai bentuk kesiapan, Paguyuban Silihwangi Majakuning juga menyalurkan bantuan alat pemadaman awal berupa waterjet shooter punggung kepada sejumlah kelompok tani hutan.
“Peralatan ini dirancang untuk mempercepat respons awal saat muncul titik api, terutama di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan pemadam,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Ketua KTH Caladi Sakti, Suharman, yang menegaskan komitmen komunitasnya untuk terus bersinergi dengan pemerintah dalam menjaga kelestarian kawasan hutan Ciremai.
Dengan penguatan kolaborasi lintas sektor dan berbasis komunitas, sistem mitigasi karhutla di Kabupaten Majalengka diharapkan semakin adaptif dan responsif menghadapi puncak musim kemarau serta ancaman bencana yang kian kompleks.
