Hasil kerja sama tersebut berbuah hasil. Yanto dan Sudarso menjadi satu-satunya peserta pairing yang finish.
Selain kerjasama tim, faktor ‘tuan rumah’ juga sangat mempengaruhi. Sebab, lebih hapal medan ketimbang peserta lainnya. “Kita kelebihannya tuan rumah, jadi bisa lebih paham medan. Eventnya cukup unik karena cari rute sendiri, nah itu yang bikin peserta lain bercerai berai,” tutunrya.
Di rute yang ditempuh kemarin, Sudarso dan Yanto menempuh perjalanan ke Kuningan, masuk jalan baru. Turun ke Linggarjati, turun ke Sumber. Lanjut ke arah Maja-Talaga, Waduk Darma. Kemudian ke arah Kawali, Panjalu, turun ke perbatasan Tasik -Ciamis. “Hari pertama, malam jam 23.00 masuk penginapan. Hari kedua 05.00 meski banyak datar, tetapi suhu panas cukup membuat perjalanan berat,” ungkapnya.
Baca Juga:Pelaksanaan Haji Terkendali, Bus Sholawat Siap Layani Jamaah 24 Jam di MakkahKeluarga Minta Pelaku Dihukum Mati, Yakin Ririn dan Priyo Pelaku Pembunuhan di Paoman
Di hari kedua, sebenarnya perjalanan hanya sisa 230 kilometer, di hari pertama sudah 280 kilometer. Elevasi hari pertama sudah 3.600 MDPL. Tetapi tantangan cuaca panas, membuat perjalanan menjadi lebih berat. Sudarso mengaku bersyukur karena bisa menyelesaikan salah satu event ultra cycling paling unik di Indonesia ini. (*)
