Pak Lurah Sukapura pun Turun Tangan Mencukur Rambut tanpa Jijik

rambur ODGJ
TANPA JARAK: Lurah Sukapura, Diza Setya Aji Pambudi dengan penuh kepedulian mencukur rambur ODGJ yang duduk tenang. FOTO: IST/RADAR CIREBON
0 Komentar

Pengawasan dilakukan berlapis. Setiap bulan, tenaga medis melakukan pemeriksaan rutin. Sementara itu, kader lingkungan memantau kondisi harian, memastikan tidak ada warga yang luput dari perhatian.

“Kami ingin memastikan mereka tidak merasa sendirian,” kata Diza.

Di balik kesederhanaannya, program ini juga menjadi jawaban atas persoalan lama: praktik pemasungan. Di berbagai daerah, ODGJ masih kerap dipasung karena dianggap membahayakan atau memalukan.

Baca Juga:Mengubah Jelantah Jadi Berkah, Cerita Baznas Cirebon di Usia 25 Tahun: Gedung Baru Diresmikan, Inovasi Sosial60 Ribu Warga Nganggur, Serapan Tenaga Kerja Sektor Manufaktur Tembus 12 Ribu

Sukapura memilih jalan berbeda. Alih-alih mengurung, mereka merangkul. Keluarga yang sebelumnya merasa terbebani kini memiliki tempat berbagi. Mereka tidak lagi menghadapi persoalan sendirian. Ada sistem yang mendukung, ada komunitas yang peduli.

Jika kondisi warga membutuhkan penanganan lebih lanjut, kelurahan telah menyiapkan jalur koordinasi dengan RSD Gunung Jati dan Dinas Sosial Kota Cirebon.

Pendekatan ini memastikan bahwa setiap warga mendapatkan penanganan sesuai kebutuhannya, tidak berlebihan, namun juga tidak terabaikan.

“Ini bukan program instan. Ini proses panjang membangun kesadaran bersama,” ujar Diza.

“Ngasih Gaji Mertua” mungkin terdengar sederhana. Namun, di balik nama unik itu, tersimpan upaya besar: mengembalikan martabat manusia.

Di Sukapura, ODGJ bukan lagi sekadar angka dalam data. Mereka adalah bagian dari warga yang dirawat, diperhatikan, dan yang terpenting diperlakukan sebagai manusia. (*)

Laman:

1 2
0 Komentar