RADARCIREBON.ID – Pagi itu, suasana di sebuah sudut Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, terasa berbeda.
Sejumlah warga berkumpul, bukan untuk kerja bakti biasa, melainkan menyaksikan sebuah momen sederhana yang penuh makna: seorang pria dengan sabar mencukur rambut seorang warga yang selama ini kerap dianggap “terasing”.
Pria itu adalah Lurah Sukapura, Diza Setya Aji Pambudi. Di hadapannya, seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) duduk tenang. Rambut yang sebelumnya kusut perlahan dirapikan. Tak ada jarak, tak ada rasa jijik. Yang ada hanya kepedulian.
Baca Juga:Mengubah Jelantah Jadi Berkah, Cerita Baznas Cirebon di Usia 25 Tahun: Gedung Baru Diresmikan, Inovasi Sosial60 Ribu Warga Nganggur, Serapan Tenaga Kerja Sektor Manufaktur Tembus 12 Ribu
Di balik momen itu, tersimpan sebuah gerakan sosial yang unik sekaligus menyentuh: “Ngasih Gaji Mertua”.
Nama yang terdengar jenaka itu ternyata menyimpan pesan serius. “Ngasih Gaji Mertua” merupakan akronim dari Jangan Sisihkan Gangguan Jiwa, Mereka Butuh Bantuan Kita. Sebuah ajakan untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap ODGJ, dari stigma menjadi empati.
Bagi Diza, persoalan ODGJ tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan medis. Ada sisi lain yang sering luput: kemanusiaan.
“Sering kali mereka hanya dilihat sebagai pasien. Padahal, mereka juga manusia yang butuh dirawat, dihargai, dan diperlakukan layak,” ujarnya.
Dari situlah program ini lahir. Bukan sekadar kebijakan, melainkan gerakan yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari. Para relawan dan kader kesehatan turun tangan tanpa sekat. Mereka memandikan, mencukur rambut, hingga membersihkan kuku para ODGJ.
Hal-hal yang mungkin dianggap sepele, justru menjadi langkah awal memulihkan martabat.
Dalam banyak kasus, ODGJ kerap kehilangan akses terhadap perawatan diri. Rambut dibiarkan kusut, tubuh tak terurus, hingga akhirnya stigma sosial semakin menguat. Sukapura mencoba memutus rantai itu, dari hal paling mendasar: kebersihan diri.
Baca Juga:Penguatan Spirit Pendidikan yang Memanusiakan ManusiaKolaborasi PGIS dan Pemkot Bersihkan Kalibaru
Ada perubahan yang perlahan terlihat. Wajah yang sebelumnya murung mulai menunjukkan ekspresi berbeda. Tatapan yang kosong perlahan menjadi lebih hidup. Perawatan fisik, ternyata membuka jalan bagi pemulihan mental.
Namun, Sukapura tidak berhenti di situ. Gerakan ini dibangun dengan semangat gotong royong. Kampung KB, tenaga kesehatan, hingga pengurus RT dan RW dilibatkan. Setiap warga didata, dipantau, dan didampingi.
