KUNINGAN — Upaya membangun desa yang bersih dan sehat terus didorong kalangan perguruan tinggi. Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggandeng Perkumpulan Afirmasi Pengajar Nusantara dalam program pengabdian masyarakat bertajuk Desa Bebas Sampah di Kampung KB Desa Pajawanlor, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Minggu (10/5).
Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa UMC Cirebon bersama dosen pendamping dan perangkat desa setempat. Program diawali dengan pelaksanaan pra-pengabdian desa yang difokuskan pada edukasi pengelolaan sampah ramah lingkungan serta penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui penanaman pohon produktif.
Dalam kegiatan itu, mahasiswa memperkenalkan tungku pembakaran sampah bebas asap kepada warga. Teknologi sederhana tersebut diperagakan langsung agar masyarakat dapat memahami cara penggunaannya. Kehadiran tungku anti asap diharapkan menjadi solusi pengelolaan sampah rumah tangga tanpa menimbulkan polusi udara yang mengganggu lingkungan sekitar.
Baca Juga:Dorong Ekspansi UMKM, Pemkab Kuningan Gelar Fasilitasi Sertifikasi Pangan Skala Rumah TanggaHati-Hati di Gerbang Digital: BPSK Kuningan Soroti Lonjakan Belanja Online, Minta Masyarakat Tak Asal Klik
Selain edukasi pengelolaan sampah, mahasiswa bersama pemerintah desa juga melakukan penanaman enam pohon anggur sebagai langkah awal pengembangan Taman Tasunting atau Taman Sehat Cegah Stunting. Program tersebut diproyeksikan menjadi ruang edukasi sekaligus sarana mendukung ketahanan pangan keluarga di Desa Pajawanlor.
Kepala Desa Pajawanlor menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang dibangun UMC Cirebon bersama Perkumpulan Afirmasi Pengajar Nusantara. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa menjadi energi baru bagi masyarakat desa dalam menghadirkan inovasi lingkungan yang bermanfaat dan berkelanjutan. Kegiatan itu juga mendapat dukungan dari perwakilan DPP KB P3A Kabupaten Kuningan yang turut hadir dalam pelaksanaan program.
Dosen pembimbing kegiatan, Johan MT, mengatakan program pengabdian desa menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Menurut dia, sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, dan pemerintah desa penting untuk membangun kesadaran lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga. “Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga hadir langsung memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” ujarnya.
