Ini Alasan Warga Pancuran Barat Demo Tolak Perpanjangan Kontrak Menara BTS

SEGEL BTS
SEGEL BTS: Warga RW 04 Pancuran Barat, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kejaksan menggelar aksi penolakan terhadap perpanjangan kontrak menara BTS, Sabtu (23/5/2026). FOTO: ABDULLAH/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Sejumlah warga RW 04 Pancuran Barat, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, menggelar aksi penolakan terhadap perpanjangan kontrak menara Base Transceiver Station (BTS).

Dalam aksi tersebut, warga memprotes keberadaan menara BTS yang berada di tengah permukiman karena dinilai menimbulkan kebisingan dan mengganggu kenyamanan lingkungan. Warga bahkan menggembok gerbang menara sebagai bentuk penolakan.

Warga mengaku kecewa lantaran pihak perusahaan pengelola menara dinilai minim melakukan komunikasi terkait rencana perpanjangan kontrak.

Baca Juga:Kebutuhan Hewan Kurban di Kota Cirebon 2.673 EkorPetani Cirebon Mengeluh, Sudah Tiga Kali Gagal Panen

Salah seorang warga, Imam Santoso, mengatakan warga tidak pernah mendapatkan sosialisasi maupun penjelasan resmi dari pihak perusahaan.

“Dari awal tidak ada komunikasi atau tindak lanjut dari pihak perusahaan kepada warga. Tiba-tiba kami mendapat informasi kalau kontraknya diperpanjang,” ujar Imam.

Menurut dia, menara BTS tersebut berdiri sejak 2016 dan telah melalui dua periode kontrak masing-masing lima tahun. Namun, warga terkejut karena kontrak terbaru disebut langsung diperpanjang selama 10 tahun.

Warga sempat meminta penjelasan terkait kompensasi dan durasi kontrak baru, namun tidak mendapat respons yang memuaskan.

“Karena tidak ada titik temu dan tidak ada tanggapan, warga akhirnya sepakat meminta menara ini dibongkar,” katanya.

Pantauan di lokasi, sejumlah warga didominasi ibu-ibu membentangkan poster dan spanduk penolakan di depan pagar menara BTS.

Warga lainnya, Namini, mengaku keberadaan menara BTS sangat mengganggu, terutama akibat suara genset yang terdengar keras saat malam hari.

Baca Juga:Kasubdit PAI SMP Kemenag RI Dukung Transformasi Digital Guru PAI Usulkan Muktamar NU ke-35 Digelar di Kota Wali

“Kalau malam suaranya sangat bising. Selain itu, kami juga khawatir soal dampak kesehatan,” ujarnya.

Namini menilai sejak awal pembangunan menara, warga tidak pernah dilibatkan dalam proses perizinan maupun dimintai persetujuan.

“Warga tidak pernah diajak musyawarah. Tahu-tahu tower sudah berdiri,” katanya.

Hal senada disampaikan Raniti. Ia mengatakan kebisingan dari menara BTS mengganggu waktu istirahat warga, terutama lansia dan anak-anak.

“Kalau malam suaranya seperti pesawat, jadi susah tidur dan membuat pusing,” ujarnya.

Raniti menambahkan, warga juga mempertanyakan tidak adanya kompensasi yang jelas selama menara tersebut beroperasi.

Menurut warga, sekitar 40 rumah berada paling dekat dan terdampak langsung oleh keberadaan menara BTS tersebut.

0 Komentar