Ia juga menempatkan keselamatan jiwa dan keabsahan ibadah sebagai satu kesatuan kebijakan. Skema murur disiapkan bagi jamaah lansia, risiko tinggi, komorbid, disabilitas, serta pendampingnya agar pergerakan dari Arafah menuju Mina berlangsung lebih aman, tertib, dan tetap sesuai bimbingan manasik. “Setiap jamaah harus merasa dilindungi. Setiap keterbatasan harus mendapat dukungan. Setiap petugas harus hadir dengan empati, sigap, dan memahami kebutuhan khusus jamaah,” ujar Menhaj.
Untuk mendukung kekhusyukan jamaah, Kemenhaj menyiapkan 15 porsi makanan siap santap cita rasa Nusantara selama fase Armuzna. Distribusi konsumsi juga disiapkan lebih awal sejak 6 Dzulhijjah agar jemaah dapat lebih fokus beribadah.
Layanan haji tahun ini turut diperkuat melalui digitalisasi pengawasan dan pelaporan berbasis Command Center, SIKABAH, dan Kawal Haji. Sistem ini memungkinkan respons petugas lebih cepat, terukur, dan berbasis data.
Baca Juga:STID dan Wajah Baru Pelabuhan Cirebon; Makin Tertib dan Modern, Menjaga Arus Ekonomi Tetap HidupRibuan Bobotoh Rayakan Persib Juara
Dalam tata kelola dam, Kemenhaj mencatat 145.341 jamaah telah membayar dam. Sebanyak 102.364 melalui Adahi di Arab Saudi dan 38.992 melalui mekanisme di Indonesia. Sebagian besar daging dam jamaah Indonesia juga diarahkan untuk membantu masyarakat Palestina melalui koordinasi Adahi dan Pemerintah Arab Saudi.
Menhaj mengajak jamaah memanfaatkan waktu wukuf sebagai ruang muhasabah, memperbanyak doa, zikir, istighfar, serta menjaga kesehatan dan disiplin mengikuti arahan petugas. “Arafah adalah ruang muhasabah. Doakan keluarga, para pemimpin bangsa, keselamatan Indonesia, dan semoga seluruh jamaah kembali ke Tanah Air sebagai haji yang mabrur,” tandas Menhaj.
Sementara itu, sesuai jadwal, pemulangan jamaah haji Indonesia gelombang I akan dilakukan pada 1 sampai 15 Juni 2026 melalui Bandara Jeddah. (rc)
