KUNINGAN – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pembangunan masyarakat melalui program Kampus Berdampak. Bersama Kemenduk Bangga/BKKBN Republik Indonesia, DPPKBP3A Kabupaten Kuningan, serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMC, program tersebut kini diwujudkan melalui berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Pajawanlor, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan.
Salah satu program unggulan yang tengah berjalan adalah pengembangan kebun anggur dan pertanian hidroponik. Program ini dirancang untuk mendorong peningkatan pendapatan asli desa sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat. Melalui keterlibatan langsung mahasiswa dan dosen, kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi warga.
Program pengabdian ini melibatkan sejumlah program studi di lingkungan UMC, di antaranya Teknik Informatika, Matematika, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama Islam. Namun, pelopor utama kegiatan lapangan tersebut berasal dari mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik UMC yang berperan aktif sejak tahap perencanaan hingga proses penanaman bibit anggur.
Baca Juga:TJSL PNM Untuk Pendidikan, Ruang Pintar Al Hijrah Perumahan Griya Caraka Raih Perpanjangan Bantuan Ke-3Â Idul Adha, Paguyuban Silihwangi Majakuning Kurban untuk Ratusan Kepala Keluarga HHBK Ciremai
Saat ini, kegiatan telah memasuki tahapan pengembangan dan penanaman bibit. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya memberikan pendampingan teknis, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas warga dalam mengelola potensi desa secara mandiri.
Ketua LPPM Universitas Muhammadiyah Cirebon, Tania Avianda Gusman, menyampaikan bahwa program Kampus Berdampak yang dijalankan saat ini merupakan tahun kedua kolaborasi antara LPPM, program studi, dan institusi universitas. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat yang harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Senada dengan itu, Ketua Program Studi Teknik Industri UMC, Budi Susanto, menilai program tersebut menjadi ruang pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa.
“Melalui keterlibatan langsung di masyarakat, mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik nyata sehingga kehadiran perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi bagi kebutuhan masyarakat,” papar Budi.
Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat UMC, Johan MT, saat ditemui Senin (1/6), mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk sinergi lintas program studi yang ke depan akan dikembangkan melalui pembentukan pusat studi penting (peduli stunting). Program tersebut akan melibatkan kolaborasi dengan DPPKBP3A Kabupaten Kuningan, Kemenduk Bangga/BKKBN, serta perwakilan Kemenduk Bangga Provinsi Jawa Barat.
