RADARCIREBON.ID – Keterbatasan kuota pupuk subsidi masih menjadi persoalan yang dihadapi petani di Kabupaten Kuningan.
Berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi dinilai tidak hanya meningkatkan biaya produksi pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi produktivitas dan hasil panen yang diperoleh petani.Hal tersebut disampaikan Dewan Pakar Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Kuningan, Uun Sunarum.
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak petani, terutama yang berada di wilayah pinggiran, yang belum mendapatkan pupuk subsidi sesuai kebutuhan lahan yang mereka garap.
Baca Juga:Kuningan Bidik Prestasi di Porsenitas, Turunkan Kontingen pada 14 CaborDisdikbud Kuningan Evaluasi Layanan Pendidikan Melalui Forum Konsultasi Publik
“Kalau dulu untuk lahan satu hektare petani bisa mendapatkan sekitar empat kuintal pupuk urea bersubsidi. Namun sekarang karena kuota subsidi berkurang, petani hanya menerima sekitar dua kuintal. Kondisi ini tentu menjadi kendala bagi petani dalam menjaga produktivitas pertanian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, persoalan pupuk tidak bisa hanya disikapi dengan mengeluh. Menurutnya, petani harus mulai mencari solusi dan beradaptasi dengan kondisi yang ada melalui berbagai inovasi di sektor pertanian.
Salah satunya dengan mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia konvensional, dan mulai memanfaatkan pupuk organik yang dibuat secara mandiri dari limbah pertanian maupun bahan-bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Kami terus mendorong petani untuk tidak sepenuhnya bergantung pada pupuk subsidi. Di beberapa desa bahkan sudah ada petani yang selama lima musim tanam berturut-turut tidak menggunakan pupuk kimia, tetapi membuat pupuk sendiri dari bahan organik dan hasilnya cukup baik,” ungkapnya.
Meski demikian, Uun menegaskan upaya tersebut tetap membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah maupun legislatif.
Menurutnya, keberpihakan terhadap sektor pertanian harus terus diperkuat agar usaha tani tetap memberikan keuntungan yang layak bagi masyarakat.
“Kami ingin petani bisa mandiri dan tangguh, tetapi tetap perlu dukungan pemerintah. Tujuannya agar bertani menjadi profesi yang menjanjikan dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Baca Juga:Seren Taun di Kuningan, Menjaga Warisan Leluhur dan Merawat Kearifan Lokal di Tengah Arus ZamanOperasi Patuh Lodaya Ditunda, Polantas Kuningan Tetap Gencar Edukasi Simpatik
Selain itu, KTNA juga mengajak generasi muda untuk mulai melirik sektor pertanian sebagai bidang usaha yang memiliki prospek di masa depan.
Regenerasi petani dinilai menjadi tantangan penting di tengah semakin berkurangnya minat anak muda untuk terjun ke dunia pertanian.
