Pelaksanaan proyek di lapangan yang menggunakan skema kerja sama bersama personel Kodam III/Siliwangi kerap menghadapi kendala teknis yang dinamis. Perbedaan kondisi antara gambar perencanaan di meja kerja dengan realitas medan galian sering kali menuntut perubahan volume pekerjaan secara mendadak.
Kontrak kerja yang menggunakan sistem harga satuan dinilai menguntungkan karena memungkinkan pelaksana melakukan penyesuaian dinamis di lapangan, terutama saat ditemukan titik longsor baru atau kedalaman pondasi yang melebihi perkiraan awal. Faktor alam berupa fenomena air pasang laut atau rob menjadi batu sandungan utama yang paling sering menghambat produktivitas pekerja di dasar sungai. Setiap hari, air laut terpantau mulai naik dan menggenangi area galian fondasi pada siang hari, berkisar antara pukul 14.00 hingga sore menjelang malam.
“Kalau rob datang, biasanya mulai sekitar pukul 14.00 atau 15.00 sampai sore menjelang malam. Karena itu kisdam atau tanggul sementara yang kami buat harus benar-benar mampu menahan air rob,” kata Hendra.
Baca Juga:BK Undang Nasdem soal HSG, Abdul Wahid: Pada Akhirnya Nanti Ada KeputusanTimnas Indonesia U-19 vs Australia U-19, Bukan Lawan Sembarangan
Untuk menyiasati fenomena alam tersebut, jam kerja para buruh konstruksi diubah menjadi lebih pagi agar percepatan pembangunan pondasi batu belah bisa diselesaikan sebelum debit air sungai meningkat tajam. Ketika air rob naik ke area kerja, tingkat kesulitan pemasangan batu dan semen meningkat drastis dibandingkan saat kondisi surut di pagi hari.
Suasana pengerjaan proyek pada Kamis siang (11/6/2026) memperlihatkan aktivitas fisik yang padat dan terorganisir di sepanjang Jalan Sukalila Selatan. Di bawah terik matahari, para pekerja dengan seragam rompi keselamatan berwarna oranye menyala dan helm pelindung kuning tampak bahu-membahu di area konstruksi.
Sebuah papan peringatan resmi berwarna putih-kuning bertuliskan “Mohon Maaf Perjalanan Anda Terganggu Sedang Ada Pekerjaan” terpasang tegak di tepi jalan, menjadi pembatas antara jalur lalu lintas kendaraan dengan zona pengerjaan fisik.
Gundukan tanah kerukan dan tumpukan material pasir berukuran besar terlihat menggunung di sepanjang tepi sungai, menyisakan ruang jalan yang cukup kontras dengan aktivitas lalu lintas sepeda motor yang melintas. Di titik lain, sebuah mesin pengaduk semen atau molen ditempatkan persis di dekat tumpukan karung-karung semen dan ember plastik yang digunakan pekerja untuk membuat adonan beton pembungkus tanggul. Beberapa pekerja terlihat menggunakan sekop untuk memindahkan pasir, sementara yang lain sibuk memindahkan material batu belah untuk menyusun dinding sungai.
