RADARCIREBON.ID – Proyek revitalisasi infrastruktur air di pusat Kota Cirebon terus bergulir. BBWS Cimanuk-Cisanggarung kini memprioritaskan perbaikan total struktur bawah di kawasan Sungai Sukalila.
Langkah pembongkaran dinding pembatas lama dilakukan secara menyeluruh karena kondisi fisik yang rusak parah. Hingga memasuki pekan kedua Juni, pelaksanaan fisik belum menyentuh area hilir di wilayah Kalibaru akibat keterbatasan alokasi dana tahap pertama.
Dinamika pengerjaan proyek pemeliharaan berkala di sepanjang bantaran Sungai Sukalila kini memasuki tahapan krusial. Struktur pembatas sungai yang kokoh perlahan mulai terbangun untuk menggantikan dinding beton lama yang telah lapuk dimakan usia. Berdasarkan data teknis, proyek berskala prioritas ini ditargetkan mampu memulihkan fungsi optimal saluran air perkotaan sekaligus menata estetika kawasan kumuh.
Baca Juga:BK Undang Nasdem soal HSG, Abdul Wahid: Pada Akhirnya Nanti Ada KeputusanTimnas Indonesia U-19 vs Australia U-19, Bukan Lawan Sembarangan
Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Hendra Kurniawan memaparkan capaian riil pengerjaan fisik di lapangan. Berdasarkan peninjauan langsung secara berkala, akumulasi progres pembangunan infrastruktur tersebut saat ini baru menyentuh angka kurang lebih 24 persen.
“Progresnya sekarang sekitar 24 persen. Yang saat ini dikerjakan itu di kanan-kiri sungai, khususnya di bagian Sungai Sukalila, sekitar TPS Sukalila,” ujar Hendra kepada Radar Cirebon.
Pihak BBWS menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah meruntuhkan seluruh struktur tanggul lama di area Sukalila yang dinilai rawan jebol.
Pengerjaan dilakukan secara bertahap demi menjaga stabilitas tanah di sekitar bantaran. Sisi kiri aliran sungai dipastikan telah menyelesaikan tahapan pembongkaran dasar dan kini telah berdiri struktur tanggul baru, meskipun belum memasuki fase penyelesaian akhir atau plesteran. Saat ini, konsentrasi pekerja beralih sepenuhnya untuk melakukan pembongkaran dan pembangunan ulang dinding sungai di sisi kanan.
Penanganan fisik ini sengaja dipusatkan di Sukalila dan belum melebar ke arah Kalibaru. Faktor keterbatasan serapan anggaran menjadi alasan mendasar di balik pembagian zonasi pengerjaan tersebut. Pihak otoritas menyatakan bahwa dana yang dikucurkan oleh pemerintah pusat untuk tahap pertama belum mencukupi untuk membiayai seluruh rencana cetak biru penataan kawasan terintegrasi ini.
Skema pembiayaan yang telah direalisasikan untuk termin awal tercatat sebesar Rp6,5 miliar dari total usulan anggaran penataan menyeluruh yang diajukan sebesar Rp10 miliar. Sisa usulan anggaran tahap kedua telah diajukan kepada kementerian terkait, namun hingga kini status dana tersebut belum diturunkan. Kondisi ini memaksa pelaksana proyek memaksimalkan dana yang ada untuk menuntaskan area Sukalila terlebih dahulu, sementara area Kalibaru akan dimasukkan ke dalam rencana pengerjaan tahap kedua.
