“Ketika generasi muda memahami nilai Pancasila, menjunjung persatuan, menghargai keberagaman, dan taat pada konstitusi, mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh narasi kebencian maupun ajakan radikalisme,”ujarnya, kemarin (21/6).
Nana mengungkapkan, generasi Z kerap menjadi sasaran penyebaran paham radikal karena berada pada fase pencarian jati diri. Kerentanan tersebut semakin diperkuat oleh algoritma media sosial yang menciptakan fenomena echo chamber atau ruang gema, yakni kondisi ketika seseorang terus-menerus menerima informasi sejenis sesuai preferensi yang pernah ditunjukkan.
Akibatnya, ketika pengguna berulang kali mengakses konten yang mengandung narasi radikal, platform digital akan terus menyajikan konten serupa. Situasi tersebut berpotensi mempersempit sudut pandang dan memperkuat keyakinan yang keliru tanpa adanya ruang untuk melihat perspektif lain.
Baca Juga:Mahasiswa Kuningan Soroti KDMP, MBG hingga Pelemahan RupiahDukungan Pusat Menguat, JLTS Kuningan Ditargetkan Fungsional Sepanjang 5 Kilometer pada 2027
Ia pun mengingatkan peserta agar mewaspadai berbagai ciri narasi radikal yang marak beredar di media sosial, seperti ujaran kebencian, klaim kebenaran tunggal, penolakan terhadap keberagaman, penggunaan bahasa provokatif, hingga penyebaran teori konspirasi tanpa dasar yang jelas.
Menurut Nana, saat ini konten-konten semacam itu dikemas secara lebih modern dan menarik melalui video pendek, meme, maupun potongan ceramah yang dipenggal dari konteks aslinya. Bahkan, hoaks kerap dijadikan pintu masuk untuk memengaruhi cara berpikir dan emosi pengguna media sosial.
Karena itu, ia menilai upaya pemblokiran konten oleh pemerintah tidak akan cukup jika tidak dibarengi dengan dukungan dari komponen masyarakat. (ags)
