Bibit kedelai khusus untuk swasembada yg ditanam adalah kedelai varietas MIGO Garuda merah putih yang dirancang dan disiapkan dalam 25 tahun penelitiannya. Kedelai MIGO GMP 01 atau MIGO AL-1.89 telah terbukti sebelumnya hasil panennya mencapai 5,3 ton/hektar resmi oleh BPS (Badan pusat Statistik) di Lampung Utara yang ditanam di satu hamparan seluas 30 hektare.
Sementara dibanding kedelai varietas biasa yang ditanam petan rata-rata hanya 0,9 ton per hektar.
Istimewanya, bibit unggul yang ditemukan oleh Prof Ali mulai ditanam di Desa Sukamulya, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu.
Baca Juga:Ponpes Ketitang Cirebon Menebar Pesan Perlindungan Anak, Diapresiasi Yenny WahidDPR Minta PLN Jujur, Tangani Krisis Listrik, Dirut Klaim Mulai Membaik
Pada Agustus 2026 nanti, Ali akan membuktikan sekaligus melawan mitos bahwa kedelai tidak bisa tumbuh di negara dengan iklim tropis. Bila panen berhasil dan lahir bibit unggul kedelai, lahan seluas 210 hektare yang berada di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PT PG Rajawali II, akan menjadi pembuktian Ali. Dari lahan tersebut juga akan tercatat dalam sejarah, di mana Indonesia berpotensi besar mengubah pasar global kedelai non GMO. Ke depannya, dia berharap petani akan mendapatkan nilai tambah dari kedelai. Sebab, menanam tanaman ini, nantinya bisa masuk dalam penerapan pola tanam tumpang sari dan rotasi tanaman.
Ia mendorong petani agar setidaknya sekali dalam setahun menanam kedelai sebagai upaya menjaga keseimbangan unsur hara di dalam tanah. Tanaman kedelai memiliki manfaat penting dalam membantu memperbaiki struktur tanah sekaligus menjaga produktivitas lahan pertanian dalam jangka panjang. “Petani setahun sekali menanam kedelai dan kacang-kacangan harus dilakukan untuk menjaga kesuburan tanah. Sehingga bisa mendapatkan manfaat ekonomi dari kedelai,” katanya.
Ali menyebut produksi kedelai bisa mencapai 3,5 ton per hektar, tiga kali lipat dari produktivitas umumnya yang rata-rata sekitar satu ton. Hasil itu bahkan lebih tinggi dari produksi rata-rata di salah satu produsen terbesar kedelai dunia, Amerika Serikat, yaitu 2,7 ton. Kedelai non GMO yang ditanam di Kabupaten Indramayu juga lebih sehat dikonsumsi dan tidak memiliki efek kesehatan dalam jangka panjang.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan kedelai GMO yang bisa menimbulkan masalah kesehatan, masalah hormonal dan dampak lain bagi generasi bangsa.
