Dari Pelatihan yang Digelar Program Studi D-III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon 

pelatihan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon
PELATIHAN: Sebanyak 24 guru dari 14 PAUD dan TK di wilayah kerja Puskesmas Larangan mengikuti pelatihan. Foto: Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon for RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Tugas guru PAUD dan TK bukan lagi sekadar mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung. Di tengah meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak, mereka kini dituntut menjadi pelindung sekaligus pendidik yang mampu mengenalkan batasan tubuh dan menjaga anak dari berbagai bentuk kekerasan.

Kesadaran itulah yang mendorong Program Studi D-III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon menggandeng Dinas Kesehatan Kota Cirebon dan UPT Puskesmas Larangan menggelar Pelatihan Guru PAUD/TK Peduli Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak.

Sebanyak 24 guru dari 14 PAUD dan TK di wilayah kerja Puskesmas Larangan mengikuti pelatihan yang berlangsung di Aula UPT Puskesmas Larangan. Kegiatan tersebut dibuka Kepala UPT Puskesmas Larangan, dr Hj Walyanah MH bersama jajaran tenaga kesehatan.

Baca Juga:Wilayah Argasunya Krisis Air Bersih dan KekeringanKerusakan GTC Makin Parah, Pemkot Didesak Segera Ambil Alih 

Bagi sebagian orang, pendidikan seksual masih dianggap sebagai topik yang tabu dibicarakan kepada anak. Padahal, menurut tim pengabdi, pendidikan seksual sejak usia dini justru menjadi salah satu benteng utama untuk mencegah anak menjadi korban kekerasan seksual.

Dosen Prodi D-III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Kampus Cirebon, Bdn Neli Nurlina SST MPH, mengatakan pelatihan tersebut dirancang agar guru memiliki bekal pengetahuan sekaligus keterampilan dalam memberikan edukasi kepada anak sesuai tahapan usianya.

“Harapannya, seluruh peserta dapat membagikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada guru lain maupun orang tua murid sehingga semakin banyak pihak yang peduli dan berdaya dalam mencegah kekerasan seksual pada anak,” ujarnya.

Dalam pelatihan itu, guru tidak hanya menerima materi di ruang kelas. Mereka juga diajak mempraktikkan metode pembelajaran yang mudah dipahami anak, salah satunya melalui lagu dan permainan edukatif.

Materi yang diberikan mencakup pengenalan identitas diri, nama dan fungsi anggota tubuh menggunakan istilah yang benar, pembiasaan toilet training sejak usia dua tahun, hingga mengajarkan anak mengenali sentuhan yang aman dan tidak aman.

Guru juga dibekali cara menanamkan keberanian kepada anak untuk mengatakan “tidak” ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman. Mereka diajarkan mengenalkan bagian tubuh yang bersifat pribadi, siapa saja yang boleh menyentuhnya dalam kondisi tertentu, serta pentingnya segera melapor kepada orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami perlakuan yang tidak semestinya.

0 Komentar