Ia justru mengusulkan agar materi pelatihan dievaluasi dengan mengurangi porsi kegiatan fisik yang tidak berkaitan langsung dengan pengelolaan koperasi, kemudian memperbanyak materi manajemen, kewirausahaan, dan tata kelola usaha.
TB Hasanuddin menilai pendekatan tersebut akan membuat pelatihan lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta setelah kembali ke daerah masing-masing.
“Kalau dihentikan saya kira tujuannya baik, melatih mereka menjadi manajer di sebuah koperasi desa. Mungkin materinya saja yang dievaluasi. Kemiliteran dalam konteks seperti latihan menembak, kemudian baris-berbaris, panas-panasan, dikurangi. Lebih baik diberikan pelatihan tentang manajemen sebuah koperasi,” ujarnya. (dsw)
