RADARCIREBON.ID – Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.
Permintaan itu disampaikan menyusul meninggalnya tiga peserta selama mengikuti program pelatihan tersebut.
Menurut TB Hasanuddin, aspek yang perlu mendapat perhatian utama adalah proses pemeriksaan kesehatan peserta sebelum mengikuti pelatihan yang mengandung aktivitas fisik cukup berat. Ia menilai kondisi kesehatan peserta harus dipastikan terlebih dahulu guna mencegah terjadinya risiko yang tidak diinginkan.
Baca Juga:Seleksi Direksi BUMD di Kota Cirebon Mandek, Salah Satu Kandidat Kuat Meninggal DuniaKolaborasi Bapenda Cirebon dan KPP Pratama II, Sasar 88 Lokasi Usaha lewat Mapag Data
TB Hasanuddin menegaskan bahwa evaluasi kesehatan peserta menjadi langkah penting sebelum seseorang dinyatakan layak mengikuti pelatihan semacam itu.
“Jadi kalau menurut hemat saya harus dievaluasi, terutama mereka yang mau ikut pelatihan seperti itu harus dicek kesehatannya dengan baik,” kata TB Hasanuddin kepada wartawan.
Politikus PDI Perjuangan tersebut menjelaskan bahwa pemberian materi kedisiplinan dan dasar-dasar kemiliteran kepada calon pengelola koperasi bukanlah persoalan utama. Namun, ia mengingatkan agar substansi pelatihan tetap berorientasi pada kebutuhan tugas peserta sebagai pengelola koperasi.
Menurutnya, kemampuan mengelola organisasi usaha, menyusun strategi bisnis, hingga tata kelola keuangan jauh lebih penting dibandingkan materi fisik yang berlebihan.
“Tapi menurut hemat saya, ya belajar baris sih boleh-boleh saja untuk tata tertib ketika mau belajar. Tapi yang paling penting adalah belajar memanage koperasi, itu yang paling penting,” ujarnya.
Lebih lanjut, TB Hasanuddin mengaku belum mengetahui secara rinci materi yang diberikan dalam program latsarmil tersebut. Karena itu, ia meminta adanya penelusuran dan evaluasi terhadap kurikulum pelatihan untuk memastikan kesesuaiannya dengan tujuan program.
Ia mempertanyakan sejauh mana materi kemiliteran seperti penggunaan perlengkapan tempur atau latihan tertentu dibutuhkan oleh calon manajer koperasi desa dan kampung nelayan.
Baca Juga:Darurat Sampah di Cirebon! Meluber hingga Badan Jalan, TPS Liar Semakin MenjamurDorong Kuasai AI, PCNU Cirebon Siapkan SDM untuk Hadapi Era Digital
“Saya belum tahu materi pelajarannya. Nanti kita tanyakan, apakah itu hanya sebagian kecil, baris-berbaris, pakai helm dan sebagainya, lalu bawa senjata, menembak dan sebagainya, atau hanya itu. Jadi kita harus cek dulu,” katanya.
Meski demikian, TB Hasanuddin tidak setuju jika program tersebut dihentikan. Menurutnya, tujuan utama program untuk mencetak sumber daya manusia yang mampu mengelola koperasi desa secara profesional tetap merupakan langkah yang baik dan perlu dilanjutkan.
