8.000 Hektare Sawah di Indramayu Berpotensi Terdampak Kekeringan

Indramayu kekeringan
8.000 Hektare Sawah di Indramayu Berpotensi Terdampak Kekeringan
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Sebanyak 8.000 hektare lahan sawah di Kabupaten Indramayu berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Haryanto, Kamis (6/8/2026).

Sugeng menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi musim tanam kedua, dari sekitar 113 ribu hektare lahan pertanian yang telah ditanami, masih terdapat sekitar 12 ribu hektare yang belum memasuki masa tanam.

“Berdasarkan hasil evaluasi musim tanam kedua, dari sekitar 113 ribu hektare lahan pertanian yang telah ditanami, masih terdapat sekitar 12 ribu hektare yang belum memasuki masa tanam,” ujarnya.

Baca Juga:Wakil Bupati Majalengka Tepis Isu Jual Beli Jabatan yang Beredar di MedsosPemkab Majalengka dan BNN Perkuat Sinergi Berantas Narkoba

Dari jumlah tersebut, lanjut Sugeng, sekitar 6.000 hingga 7.000 hektare diperkirakan tidak dapat ditanami akibat keterbatasan ketersediaan air. Sementara itu, DKPP mencatat, lahan yang masuk kategori berpotensi mengalami kekeringan mencapai sekitar 8.300 hektare atau sekitar lima persen dari total luas lahan yang sudah ditanami.

“Ingat, yang dimaksud kemungkinan itu adalah kecenderungan. Dari sekitar delapan ribuan hektare tersebut terdapat beberapa kategori, yakni ringan, sedang, berat, dan puso. Di Indramayu saat ini masih berada pada kategori ringan dan sedang, serta belum ditemukan lahan yang mengalami puso atau gagal panen,” jelasnya.

Menurut Sugeng, wilayah yang memiliki potensi paling tinggi mengalami kekeringan berada di bagian barat Kabupaten Indramayu. Beberapa di antaranya meliputi Kecamatan Kandanghaur, Kecamatan Gabuswetan, serta sejumlah desa di wilayah Kecamatan Bongas.

“Kami bersama pemerintah daerah terus melakukan berbagai langkah antisipasi agar dampak musim kemarau terhadap produksi pertanian dapat ditekan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, H Sutatang mengatakan, wilayah pertanian yang paling terdampak kekeringan memang didominasi kawasan Indramayu bagian barat. Meski demikian, menurutnya berbagai upaya telah dilakukan oleh seluruh pihak untuk mengatasi persoalan pasokan air bagi para petani.

Ia mengimbau petani yang lahannya sudah ditanami agar lebih fokus menjaga tanaman yang telah ada. Sementara petani yang belum melakukan tanam sebaiknya tidak memaksakan diri hingga kondisi ketersediaan air membaik.

“Petani agar menggunakan pompa sumur dalam atau sumur pantek untuk memenuhi pasokan air. Bagi petani yang belum melakukan tanam, jangan memaksakan untuk menanam,” ujarnya. (oni)

0 Komentar