Hasil tersebut membawa Swiss kembali ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak edisi 1954. Pencapaian itu menjadi motivasi besar bagi mereka untuk mencoba menghentikan langkah sang juara bertahan.
Performa Swiss juga cukup meyakinkan dengan torehan empat kemenangan dan satu hasil imbang dalam lima pertandingan terakhir. Keseimbangan permainan mereka ditopang duet Granit Xhaka dan Remo Freuler di lini tengah.
Kabarnya, Swiss memilih pendekatan yang tidak biasa menjelang duel menghadapi Argentina. Timnas Swiss asuhan Murat Yakin dikabarkan mempersiapkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi selama pertandingan lawan Argentina. Termasuk bermain dengan jumlah pemain yang lebih sedikit, hingga latihan adu penalti secara intensif.
Baca Juga:Setelah Vonis Kasus Pembunuhan di Indramayu, Keadilan Terpenuhi, Keluarga Apresiasi APHGuru PPPK Paruh Waktu Ngadu ke DPRD, Gaji Minim, Berharap Cepat Beralih ke Penuh Waktu
Swiss memang jadi tim yang dikenal kerap tampil disiplin. Menurut laporan dari media Swiss, sesi latihan tim dibuat menyerupai situasi pertandingan yang paling sulit. Para pemain menjalani simulasi bermain dengan komposisi 11 lawan 10, 11 lawan 9, bahkan 11 lawan 8 pemain.
Latihan tersebut bertujuan agar para pemain tetap mampu menjaga organisasi permainan apabila harus kehilangan satu atau beberapa pemain akibat kartu merah. Tim pelatih ingin seluruh skuad tetap tenang dan mengetahui peran masing-masing dalam situasi yang penuh tekanan.
Selain mempersiapkan kemungkinan bermain dengan jumlah pemain yang tidak seimbang, Swiss juga memberi perhatian besar terhadap peluang pertandingan berakhir lewat adu penalti.
Kiper utama Gregor Kobel bersama pelatih kiper disebut menghabiskan waktu hingga dua jam setiap hari untuk berlatih menghadapi tendangan penalti. Program itu dilakukan agar Kobel memiliki kesiapan maksimal jika pertandingan harus ditentukan dari titik putih.
Persiapan tersebut menunjukkan bahwa Swiss tidak ingin menyisakan celah sekecil apa pun saat menghadapi Argentina. Mereka sadar lawan yang dihadapi memiliki kualitas individu yang mampu mengubah jalannya pertandingan dalam waktu singkat.
Di dalam negeri, pertandingan melawan Argentina bahkan disebut sebagai salah satu laga paling penting dalam sejarah sepak bola Swiss. Kesempatan melangkah ke semifinal Piala Dunia menjadi motivasi utama bagi seluruh pemain dan staf pelatih.
Faktor lain yang turut menambah semangat adalah peluang menghentikan langkah Lionel Messi di turnamen yang kemungkinan menjadi salah satu penampilan terakhirnya di panggung Piala Dunia. Namun, fokus utama Swiss tetap tertuju pada target lolos ke empat besar, bukan semata-mata menghadapi sang megabintang.
