RADARCIREBON.ID – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cirebon memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 tanpa perpeloncoan maupun bullying.
Pasalnya, seluruh materi dan rangkaian MPLS sepenuhnya ditangani guru. Tanpa melibatkan senior.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, H Ronianto SPd MM mengatakan, hasil evaluasi hari pertama pelaksanaan MPLS di seluruh sekolah berjalan lancar.
Baca Juga:MPLS di Kota Cirebon Penuh Warna, Datang Sejak Subuh, Menangis hingga Guru Jadi "Ortu Instan"Masuk Tahun Ajaran Baru, Harga Ayam dan Minyak Goreng Curah Naik
Hingga Selasa (14/7), tidak menerima laporan terkait tindakan perundungan ataupun praktik perploncoan.
“Alhamdulillah, hari pertama MPLS berjalan lancar. Bahkan, belum ditemukan laporan negatif selama pelaksanaan MPLS,” ujar Ronianto kepada Radar Cirebon, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (14/7).
Dijelaskannya, seluruh sekolah menerapkan konsep MPLS ramah seperti yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
“Konsep menitikberatkan pada proses penyambutan peserta didik baru dalam lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan,” terangnya.
Diakui Ronianto, pihaknya telah menginstruksikan seluruh satuan pendidikan melakukan pengawasan ketat selama MPLS berlangsung. “Semua sekolah sudah kami minta memantau pelaksanaan MPLS secara serius,” katanya.
Pria yang akrab disapa Roni itu menjelaskan, seluruh materi MPLS wajib disampaikan oleh guru.
Keterlibatan kakak kelas dibatasi membantu hal teknis, misalnya mengatur barisan atau pendampingan kegiatan tertentu.
Baca Juga:HIMKI Gelar Furniture Bootcamp di CirebonDulu hanya 4 Murid, Kini Bisa Rekrut 11 Siswa Baru di SDN Mulyasari Losari Cirebon
“Senior hanya membantu teknis. Semua materi dan pembinaan selama MPLS menjadi tanggung jawab guru,” tegasnya.
Selain itu, pihaknya juga meminta siswa kelas VIII dan IX tetap menjalani kegiatan belajar mengajar seperti biasa sejak hari pertama masuk sekolah.
Guru pun diminta tidak meninggalkan kelas, kecuali wali kelas VII yang memang ditugaskan mendampingi kegiatan MPLS.
“Sejak hari pertama, siswa kelas VIII dan IX langsung mengikuti KBM. Dengan begitu, keterlibatan kakak kelas dalam MPLS bisa diminimalkan,” jelas Ronianto.
Pola tersebut, katanya, cukup efektif untuk menutup ruang terjadinya perploncoan maupun bullying yang selama ini kerap menjadi sorotan saat masa pengenalan sekolah.
Ia berharap, MPLS benar-benar menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan bagi peserta didik baru.
Sebab, suasana yang positif membantu siswa lebih percaya diri. Termotivasi proses pembelajaran di jenjang pendidikan yang baru.
