RADARCIREBON.ID – Lovanya Evelyn Kautsar hanya ingin lekas sembuh. Bocah 11 tahun itu ingin segera pulang, belajar, dan mengejar mimpinya. Di atas bangsal perawatan intensif, tekadnya sudah bulat: melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 5 Kota Cirebon. “Karena favorit kan, bagus sekolahnya. Ayah juga alumni SMPN 5,” ucap Lovanya lirih.
Lovanya berucap pelan dari balik sekat steril ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) RSD Gunung Jati Kota Cirebon, Rabu (15/7/2026). Suaranya terdengar sangat pelan di antara desing mesin pemantau medis. Namun pancaran matanya tidak bisa menyembunyikan semangat besar seorang anak yang merindukan suasana ruang kelas.
Di balik dinding steril ruang ICU itu, Lovanya belum mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Ayah yang ia banggakan sebagai alumni sekolah impiannya itu telah tiada. Begitu pula ibu dan adik bayinya. Ketiganya meninggal dalam tragedi hantaman tronton di tanjakan Ciperna, Senin lalu (13/7/2026). Jasad satu keluarga itu telah dimakamkan berdekatan di Desa Darma, Kabupaten Kuningan.
Baca Juga:Bentuk Satgas Libatkan APH untuk Penagihan Pajak, Akademisi: Konsepnya Gak GituPemkot Minim Inovasi Gali PAD, Tertinggal Jauh dari Daerah Lain, Akademisi: Perlu Langkah Strategis
Kecelakaan maut tersebut menyisakan Lovanya sebatang kara dengan luka fisik yang teramat berat. Tim medis terpaksa mengambil tindakan amputasi pada kakinya demi menyelamatkan nyawa sang bocah berprestasi.
Saat dikunjungi di ruang perawatan, Lovanya sempat bercerita lirih mengenai detik-detik kecelakaan tersebut. Dia mengingat ada kendaraan besar yang oleng sebelum benturan keras itu terjadi dan merenggut kesadarannya. Saat ini, dia mengaku masih merasakan sakit yang cukup hebat di bagian tangan serta rasa pusing yang belum hilang sepenuhnya.
Demi menjaga kondisi psikologisnya yang masih sangat ringkih pascaoperasi besar, pihak keluarga bersama tim medis sepakat mengunci rapat kabar duka tersebut. Akses telepon genggam milik Lovanya dibatasi secara total oleh pihak keluarga yang mendampinginya.
Langkah perlindungan informasi ini sengaja diambil agar tidak ada sedikit pun kabar yang bocor ke telinga Lovanya. Pihak keluarga ingin menunggu hingga Lovanya benar-benar menunjukkan pemulihan fisik yang stabil serta kondisi mental yang jauh lebih kuat sebelum menyampaikan fakta pahit tersebut.
Di luar ruang ICU, doa-doa terus mengalir tanpa putus dari rekan sekolah dan guru SDN Guntur, Kota Cirebon. Mereka mengumpulkan harapan terbaik bagi kesembuhan teman sekelas mereka yang dikenal cerdas dan ulet. Lovanya sendiri terus berjuang mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya di atas bangsal steril. Di sela-sela rasa sakit fisiknya, dia bahkan masih sempat menanyakan urusan sekolah, tugas-tugas, hingga jalannya proses pembelajaran yang tertinggal.
