“Imbasnya baru dirasakan sekarang. Untuk mengantisipasi kondisi ini, pihak-pihak terkait sudah melakukan koordinasi, terutama dengan pengelola Bendungan Rentang dan Mitra Cai agar dapat membantu petani memeroleh pasokan air yang cukup untuk mengolah lahan,” tuturnya.
Ia juga meminta para petani bersama pemerintah desa untuk bersama-sama mengawal jadwal giliran air yang telah ditetapkan. Dengan demikian, seluruh petani diharapkan tetap memeroleh pasokan air yang cukup meskipun berada di tengah musim kemarau panjang.
“Kita harus saling mengawal. Jadwal giliran air disesuaikan dengan luas wilayah sawah dan posisi lahan. Ada yang mendapat giliran dua hari dalam seminggu, ada juga yang tiga hari. Maksimalkan jadwal tersebut. Kami juga akan terus memastikan petani tetap bisa menggarap lahannya,” jelasnya.
Baca Juga:Bawaslu Kabupaten Majalengka Matangkan Kajian Debat Hukum PemiluUMC Kembangkan Kampung KB Pajawanlor, UM Kupang Tertarik Replikasi Program
Sementara itu, salah seorang petani, Harto, berharap, penerapan jadwal giliran air dapat menjadi solusi agar seluruh petani memperoleh pasokan air yang cukup untuk memulai pengolahan lahan hingga datangnya musim hujan.
“Kalau baru mulai menggarap lahan, air menjadi kebutuhan utama, baik untuk traktor, penyebaran benih padi, maupun saat penanaman. Kami berharap dengan adanya jadwal giliran air ini semua pihak bisa saling mengawal agar jangan sampai di tengah proses tandur terjadi kekeringan yang akhirnya menyebabkan gagal tanam,” ujarnya. (oni)
