KUNINGAN – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) meluncurkan program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk Kampus Berdampak di Kampung KB Buyut Santri, Desa Pajawanlor, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Minggu (19/7/2026). Program ini menghadirkan berbagai inovasi yang mengintegrasikan pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Kegiatan yang dibuka oleh Camat Ciawigebang itu menjadi penanda dimulainya pengembangan Kampung KB sebagai laboratorium pembelajaran berbasis masyarakat. Sejumlah unsur turut terlibat, mulai dari pemerintah desa, DPPKB P3A, Kemenduk Bangga/BKKBN, hingga sivitas akademika UMC.
Dosen pembimbing program, Johan M.T., mengatakan, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata komitmen perguruan tinggi dalam menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Menurut dia, pengabdian kepada masyarakat tidak boleh berhenti pada tataran konsep, melainkan harus menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga.
Baca Juga:Polres Indramayu Gelar Patroli Skala Besar Antisipasi Gangguan KamtibmasDampak El Nino "Godzilla", Petani di Indramayu Berebut dan Mengawal Pasokan Air
“Kami ingin membuktikan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan di masyarakat. Kampung KB Pajawanlor menjadi ruang kolaborasi untuk mewujudkan hal itu,” ujar Johan.
Usai pembukaan, para tamu diajak meninjau sejumlah fasilitas dan inovasi yang telah dibangun selama sekitar tiga bulan masa persiapan. Kunjungan dipandu oleh mahasiswa UMC, Faris, yang menjelaskan berbagai program yang telah direalisasikan.
Beberapa inovasi yang diperkenalkan antara lain kebun ketahanan pangan yang ditanami anggur dan beragam sayuran, Pajarwangi Waterpark dengan teknologi pengolahan air kolam, Rumah Dataku, Pojok Baca, Living Laboratory Learning, mesin pembakar sampah bebas asap, serta mural edukatif hasil karya mahasiswa Teknik UMC yang menghiasi kawasan taman.
Menurut Johan, seluruh program tersebut dirancang agar tidak hanya menjadi proyek sesaat, tetapi mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa.
“Kami berharap seluruh fasilitas ini dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Kampus hadir sebagai mitra yang mendampingi, bukan sekadar datang lalu selesai,” katanya.
Keberhasilan program tersebut juga mendapat perhatian dari perwakilan Universitas Muhammadiyah Kupang yang hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka menilai sinergi antara UMC, pemerintah daerah, BKKBN, dan masyarakat merupakan contoh kolaborasi yang layak diterapkan di daerah lain. Sebagai bentuk apresiasi, delegasi dari Kupang menyerahkan plakat serta mengalungkan kain tenun khas Kupang kepada Kepala Desa Pajawanlor.
