INDRAMAYU – Berkurangnya pasokan air bagi petani di Kabupaten Indramayu akibat musim kemarau panjang, membuat petani harus bekerja lebih keras agar dapat mengolah lahan pertanian. Saat ini, petani baru mulai melakukan kegiatan olah lahan memasuki musim tanam gadu 2026.
Kondisi tersebut dirasakan petani di wilayah hilir, khususnya di perbatasan Kecamatan Jatibarang dan Kecamatan Indramayu. Mereka harus mengawal distribusi air agar dapat mengalir hingga ke sawah-sawah mereka. Situasi ini pun menjadi perhatian berbagai pihak. Apalagi, ancaman musim kemarau panjang alias El Nino Godzilla sedang terjadi.
Menanggapi permasalahan ketersediaan air bagi petani, Unit Pelaksana Teknis Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (UPT DKPP) Kecamatan Jatibarang menyebut, berkurangnya pasokan air dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Baca Juga:Bawaslu Kabupaten Majalengka Matangkan Kajian Debat Hukum PemiluUMC Kembangkan Kampung KB Pajawanlor, UM Kupang Tertarik Replikasi Program
“Banyak faktor. Memang dari Bendungan Rentang juga sudah ada penjadwalan. Bagaimanapun juga, pasokan air untuk wilayah Indramayu berasal dari Bendungan Rentang yang berada di Kabupaten Majalengka,” ujar Kepala UPT DKPP Kecamatan Jatibarang, Subagyo, Senin (20/7).
Subagyo menjelaskan, berkurangnya pasokan air tidak hanya disebabkan menurunnya debit air akibat musim kemarau panjang. Menurutnya, hampir seluruh wilayah pertanian di Kabupaten Indramayu, baik di bagian hulu maupun hilir, secara bersamaan baru memulai masa tanam sehingga kebutuhan air meningkat secara signifikan.
Kondisi tersebut membuat petani harus berebut pasokan air karena seluruhnya membutuhkan air untuk memulai pengolahan lahan. Padahal, sesuai kalender musim tanam, masa tanam gadu seharusnya sudah dimulai sejak awal Juni 2026.
“Jika mengacu pada Rencana Tata Tanam Global (RTTG) Kabupaten Indramayu, awal musim tanam seharusnya dimulai sejak awal Juni 2026. Saat itu, masih ada hujan, sehingga kebutuhan air sedikit terbantu. Namun, memasuki Juli ini, sudah tidak ada hujan sama sekali, sehingga petani hanya mengandalkan pasokan air dari Saluran Sindupraja,” jelasnya.
Subagyo menambahkan, sebelum panen musim rendeng berakhir, pihaknya bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Jatibarang telah mengumpulkan para petani untuk memberikan arahan agar setelah panen, mereka segera melakukan pengolahan lahan. Langkah tersebut dilakukan karena sebelumnya telah ada peringatan mengenai potensi fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang.
