Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Cirebon Belum Siap Hanya Di-launching, Siswa Dipulangkan Lagi

Sekolah Rakyat Terintegrasi 
LAUNCHING: SRT 1 Cirebon di-launching kemarin. Siswa baru dari Kabupaten/Kota Cirebon, Majalengka, dan Kuningan terpaksa dipulangkan lagi karena pembangunan belum tuntas 100 persen. Foto: Seno Dwi Priyanto/Radar Cirebon
0 Komentar

Pihaknya juga memastikan seluruh fasilitas belajar dan tempat tinggal disiapkan agar memberikan rasa aman dan nyaman bagi peserta didik. Menurut Suratna, keputusan menunda MPLS diambil setelah dilakukan uji coba menginap. Dari hasil evaluasi, masih ditemukan ketidaknyamanan akibat kualitas udara yang dipengaruhi aktivitas pembangunan.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Cirebon Mimin Kasminah menjelaskan bahwa materi MPLS sebenarnya telah disiapkan dengan konsep serupa sekolah formal. Namun, pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik peserta didik yang sangat beragam.

“Ada siswa yang usianya sudah sembilan tahun tetapi baru masuk kelas satu SD. Karena itu, pengelompokan dilakukan berdasarkan jenjang pendidikan, kemudian dibagi lagi dalam kelompok kecil dengan pendampingan wali asuh, wali asrama, dan guru,” jelasnya.

Baca Juga:Babak Baru Pendidikan, Sekolah Rakyat Kabupaten Cirebon Siap Dibuka, Persiapan Hampir Seratus PersenSengketa Informasi Mengenai Dana BOS Diputus, Pemohon Di-blacklist

Ia mengatakan, selama proses MPLS nantinya, pendampingan lebih banyak dilakukan oleh wali asuh dan wali asrama. Sedangkan pada masa matrikulasi, pembelajaran akan didominasi guru.

Karena proses pengangkatan tenaga pendidik definitif masih berlangsung, pembelajaran sementara akan dibantu guru-guru dari SD, SMP, dan SMA di Kabupaten Cirebon yang ditugaskan oleh Dinas Pendidikan.

“Hingga saat ini guru dan tenaga kependidikan yang lolos seleksi memang belum menerima surat keputusan (SK). Informasinya, penetapan SK diperkirakan baru dilakukan sekitar Oktober,” ujarnya.

Mimin menegaskan, penundaan MPLS bukan semata-mata mengikuti jadwal pembangunan, tetapi lebih mengutamakan keselamatan dan kondisi psikologis siswa. “Kami tidak ingin memaksakan kegiatan dalam kondisi yang belum nyaman. Kalau dipaksakan, justru dikhawatirkan siswa terganggu kesehatannya, bahkan bisa mengalami trauma dan akhirnya enggan melanjutkan sekolah di sini,” katanya.

Selama masa penundaan, sekolah tetap menggelar kegiatan open house sekaligus menyelesaikan berbagai persiapa

n, termasuk penyempurnaan lingkungan belajar dan fasilitas pendukung. Di sisi lain, rasa syukur disampaikan para orang tua siswa. Salah satunya Salim, ayah dari Arif, siswa jenjang SD yang diterima di Sekolah Rakyat Terintegrasi.

Ia mengaku sangat terbantu dengan kehadiran program tersebut karena kondisi ekonomi keluarganya tergolong sulit. Sehari-hari Salim bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan yang tidak menentu. “Saya sangat senang anak saya diterima sekolah di sini. Terima kasih kepada Presiden, Menteri Sosial, dan Bupati Cirebon yang telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk mendapatkan pendidikan,” ujarnya.

0 Komentar