Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Cirebon Belum Siap Hanya Di-launching, Siswa Dipulangkan Lagi

Sekolah Rakyat Terintegrasi 
LAUNCHING: SRT 1 Cirebon di-launching kemarin. Siswa baru dari Kabupaten/Kota Cirebon, Majalengka, dan Kuningan terpaksa dipulangkan lagi karena pembangunan belum tuntas 100 persen. Foto: Seno Dwi Priyanto/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Cirebon belum siap beroperasi. Memang, secara resmi di-launching.

Tapi, kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang semula dijadwalkan mulai kemarin, diputuskan ditunda hingga 15 Agustus. Siswa baru asal Kabupaten/Kota Cirebon, Majalengka, dan Kuningan, dipulangkan lagi setelah sempat datang bersama orang tua mengikuti launching.

Data yang dihimpun Radar Cirebon, penundaan MPLS karena kondisi lingkungan sekolah dinilai belum sepenuhnya layak untuk aktivitas belajar. Debu dari proses pembangunan yang masih berlangsung dikhawatirkan mengganggu kesehatan dan kenyamanan para siswa. Tidak hanya bangunan yang belum siap 100 persen, juga belum tersedianya guru atau tenaga pendidik yang secara resmi mengantongi SK (belum definitif).

Baca Juga:Babak Baru Pendidikan, Sekolah Rakyat Kabupaten Cirebon Siap Dibuka, Persiapan Hampir Seratus PersenSengketa Informasi Mengenai Dana BOS Diputus, Pemohon Di-blacklist

Meski demikian, pemerintah tetap optimistis kendala-kendala itu akan teratasi. Bupati Cirebon Drs H Imron MAg mengatakan kehadiran SRT ini menjadi harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. “Anak-anak ini penerus bangsa. Saya juga bangga kepada para orang tua yang telah mendukung putra-putrinya bersekolah di Sekolah Rakyat Terintegrasi. Mereka adalah anak-anak pilihan,” ujar Imron.

Menurutnya, para tenaga pendidik yang disiapkan juga merupakan hasil seleksi sehingga diharapkan mampu mendampingi peserta didik secara optimal. “Semoga Sekolah Rakyat Terintegrasi dapat mencetak generasi penerus yang mampu mewujudkan Indonesia Emas. Kalau mereka berprestasi, bahkan ada kesempatan melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi,” katanya.

Sedangkan Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kementerian Sosial RI, Suratna, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga membangun masa depan anak-anak. “Mereka belajar, mereka tumbuh, mereka bermimpi, dan mewujudkannya dari sini. Ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan,” ujarnya, saat menghadiri langsung launching SRT 1 Cirebon.

Ia berharap para siswa tumbuh menjadi generasi yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing. “Kalian bukan sekadar siswa, tetapi kalian adalah masa depan Indonesia,” katanya.

Suratna menjelaskan, sebelum kegiatan belajar dimulai, seluruh siswa menjalani penilaian psikodinamik untuk memetakan karakter, kebiasaan, hingga pola interaksi mereka. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar dalam proses adaptasi di lingkungan sekolah maupun asrama.

0 Komentar