BPBD Kuningan juga mengajak masyarakat untuk lebih waspada selama musim kemarau dengan menghindari aktivitas pembakaran sampah maupun membuka lahan menggunakan api. Langkah sederhana tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang belakangan mulai meningkat di sejumlah titik di Kabupaten Kuningan.
Yayan menambahkan, budaya sadar bencana harus dibangun secara berkelanjutan melalui edukasi dan kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, kesiapsiagaan bukan hanya soal kemampuan saat bencana terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat mempersiapkan diri jauh sebelum ancaman datang.
“Melalui edukasi, kolaborasi, dan penguatan kapasitas, mari bersama membangun budaya sadar bencana. Kesiapsiagaan bukan hanya tentang apa yang dilakukan saat bencana terjadi, tetapi bagaimana mempersiapkan diri sebelum bencana datang,” katanya.
Baca Juga:BPBD Kuningan Salurkan Bantuan Sembako untuk Nenek Lansia Korban Kebakaran Touring Jurnalis Bersama DPRD Kuningan, Menyusuri Waduk Darma Merajut Sinergi
BPBD Kuningan berharap, kegiatan Srikandi Movement mampu melahirkan lebih banyak perempuan tangguh yang menjadi motor penggerak kesiapsiagaan di tingkat desa. Dengan bekal pengetahuan kebencanaan yang memadai, perempuan diharapkan mampu mengedukasi keluarga, menggerakkan masyarakat, serta berkontribusi dalam mengurangi risiko bencana di wilayahnya masing-masing.
Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan komunitas perempuan, budaya sadar bencana diharapkan semakin mengakar. Sebab, dari keluarga yang tangguh akan lahir desa yang tangguh, dan pada akhirnya menciptakan Indonesia yang semakin siap menghadapi berbagai ancaman bencana. (ags)
